MEMASUKI puncak musim hujan tahun ini aktivitas penambang pasir ilegal di sungai berhulu Gunung Merapi di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta masih terus berlangsung sehingga rawan terhadap berbagai bencana.

“Kami sudah kewalahan untuk mengimbau para penambang pasir di sungai berhulu Merapi karena mereka sering mengelabui petugas,” kata Camat Cangkringan Edy Sriharmanta, Jumat.

Menurut dia, para penambang pasir ilegal tersebut bukan merupakan warga Kecamatan Cangkringan dan mayoritas adalah orang luar daerah.

“Mereka ini banyak yang dari luar daerah, kalau yang warga setempat sudah pada malu. Itu kan ilegal,” katanya.

Ia mengatakan, pada puncak musim hujan ini memang diakui di aliran sungai berhulu Merapi rawan terjadi beberapa bencana.

“Selain banjir material lahar dingin yang berpotensi tinggi, juga ancaman longsor pada tebing-tebing yang di bawahnya dilakukan penggalian material pasir,” katanya.

Edy mengatakan, pihaknya merasa kesulitan untuk memberikan peringatakan kepada penambang pasir tersebut. Karena mereka setiap kali didatangi selalu melarikan diri.

“Jika kami datang, mereka ini pada lari. Jadi tidak bisa mengimbau mereka untuk menghentikan aktivitasnya,” katanya.

Ia mengatakan, selain bahaya longsor, ancaman puting beliung juga menjadi perhatiannya. Masyarakat setempat juga sudah diinstruksikan untuk melakukan pemangkasan cabang-cabang pohon besar.(ANT/B-11)