Sebanyak 71 orangutan berhasil dievakuasi dari habitatnya yang sudah rusak akibat tangan-tangan manusia di kawasan Su-ngai Mangkutub, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Kondisi fisik mereka seperti pasukan kalah perang yang penuh luka dan cacat.
“Pada saat ditemukan, banyak yang mengalami luka tembak bahkan ada yang lukanya masih basah (baru), peluru juga masih bersarang di tubuhnya,” ungkap dokter hewan dari Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Nyaru Menteng, Maryos Tandang, di Palangka Raya, Jumat (15/1/2016).
Ada pula yang jarinya putus akibat terkena jerat serta tulang hidung dan rusuknya patah karena dipukul atau jatuh. “Sudah pasti itu karena ulah manusia. Biasanya mereka menggunakan senapan angin untuk mengusir orangutan,” ungkap Maryos.
Pada berita sebelumnya juga disebutkan, dari hasil sinar X, salah satu orangutan bahkan hidup menderita dengan 13 peluru senapan angin bersarang di tubuhnya. Masing-masing 8 di dada dan 5 butir di bagian pelipisnya.
Terhadap yang mengalami luka parah seperti ini, dibawa ke Palangka Raya untuk mendapat perawatan dokter hewan Yayasan BOS.
Operasi penyelamatan orangutan itu dilakukan dua putaran oleh tim gabungan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng dan Yayasan BOS Nyaru Menteng, Palangka Raya. Yaitu pada 27 November-7 Desember 2015 dan 4-16 Januari 2015.
Berada di pinggir sungai
Tim gabungan tidak harus susah-susah masuk terlalu dalam ke hutan untuk mencari orangutan. Sebab, mereka sudah berada di pinggir sungai untuk mencari makanan.
“Jarang sekali orangutan ke pinggir sungai. Karena tempat mereka tinggal sudah rusak, hutan juga sempit, banyak kayu dipotong, makanya mereka ke pinggir (sungai),” ungkap Maryos, yang sudah bekerja selama tujuh tahun merawat orangutan.
Di pinggir sungai itu, tim juga menemukan satu orangutan betina yang menggendong dua anak. Maryos mengaku belum pernah ada cerita orangutan melahirkan anak kembar. “Kemungkinan induk salah satu anak orangutan itu dibunuh, jadi salah satunya mencari induk yang lain,” katanya.
Manajer Program Mawas dari Yayasan BOS, Jhonson Regalino, mengatakan, naluri orangutan betina akan menjaga anak yang dibawanya sampai ia dewasa. Bahkan, sang induk rela mati untuk melindungi anaknya agar tidak dilukai, apalagi direbut binatang atau manusia sekalipun.
“Jadi, logikanya si anak baru bisa lari dari induk kalau ibu mereka sudah mati. Selama induk masih hidup, dia akan mati-matian melindunginya,” kata Jhonson.
Total 71 orangutan yang terjaring, dipindahkan ke habitat baru di kawasan hutan Bagantung, Kapuas, kecuali beberapa yang terluka berat. Koordinator Kawasan Konservasi BKSDA Kalteng, Martinus, mengatakan, Bagantung merupakan wilayah tepat, karfena kondisi hutannya masih baik dan bahan makanan alami juga banyak.
“Di sana orangutan bisa bebas mencari makan dan membuat tempat tinggal untuk tetap bisa bertahan hidup. Mereka tidak perlu turun ke pinggir sungai lagi,” ungkap Martin, sapaan akrabnya.
(B-1)


