PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Barito Utara (Barut) memantau 30 petani yang ada indikasi bergabung dalam Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di daerah setempat.
“Saat ini yang tercatat pada kami ada 30 anggota Gafatar terdiri atas laki-laki, perempuan, dan anak yang masuk di daerah ini,” kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Barito Utara (Barut) Langkap Umar, akhir pekan tadi.
Menurut Langkap, mereka masuk ke daerahnya sekitar Oktober 2014 lalu sebagai kelompok tani “Nusantara Jaya”. Awalnya mereka berada di Wonorejo, Kelurahan Melayu, Kecamatan Teweh Tengah.
Mereka menyewa beberapa rumah di kawasan tersebut dan berprofesi sebagai petani sayur-sayuran. Bahkan, kelompok tani itu sempat menerima bantuan bibit dari pemerintah daerah.
“Saat mereka datang memang sudah mau melaporkan organisasinya kepada kami (Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat), tetapi kami tolak karena kami sudah menerima surat dari pemerintah pusat yang menyatakan organisasi ini ada indikasi bergabung dengan gerakan ekstrem,” katanya didampingi Kepala Bidang Kewaspadaan Sosial Yudi Eldovi Rakhman.
Langkap mengatakan bahwa kedatangan kelompok tersebut memang secara resmi dengan menunjukkan surat kepindahan warga itu di antaranya ada yang berasal dari Jakarta dan Bogor, bahkan saat ini warga itu telah memiliki kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga Barito Utara.
Kelompok tersebut ada yang masih bujangan dan sudah berkeluarga dengan sejumlah anak dengan tingkat pendidikan dari Diploma 3, SLTA, dan SLTP, serta tidak tamat sekolah.
“Informasi terakhir yang kami terima mereka kini sudah pindah ke kawasan Dusun Bayas, Parangkampeng dan Rapen Kelurahan Lanjas Kecamatan Teweh Tengah,” katanya.
Saat ini kegiatan kelompok tersebut masih bersosialisasi dengan warga setempat dalam hal kegiatan sosial kemasyarakatan dan bertani. Namun, kata dia, tidak menonjol.
Sampai saat ini, kelompok itu terus dipantau oleh pihak kepolisian, TNI, BIN, MUI, kejaksanan, dan pemerintah daerah yang tergabung dalam komunitas intelijen daerah (Kominda) dan keberadaan kelompok ini sudah dilaporkan ke Bupati Barito Utara Nadalsyah.
“Aktivitas kelompok itu masih biasa-biasa saja. Namun, tetap kami pantau terus,” kata Langkap.
HMI demo
Sementara itu, pasca insiden bom Sarinah, Jakarta, anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komistariat Muara Teweh, melakukan aksi demo, Jumat (14./1/2016) lalu.
Aspirasi ini untuk mendukung upaya preventif yang dilakukan aparat keamanan, baik TNI maupun Polri serta meminta agar Badan Intelijen Negara (BIN) melakukan deteksi sedini mungkin berkaitan dengan aksi-aksi teroris yang akan mengganggu stabilitas negara.
“Kami melawan teroris dan hari ini kami menyatakan sikap perang dengan terorisme dan radikalisme, yang sudah sejak lama kita tumpas,” kata Ketua HMI Muara Teweh, Saleh Purwanto. (ant/B-5)


