Banjir yang menerjang bagian hulu Sungai Arut memang sudah mulai surut. Namun, imbasnya ketinggian air di bagian hilir Sungai Arut mulai meningkat.

Kondisi ini menyebabkan ancaman lain yakni pertumbuhan penyakit malaria.


Hal itu disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Arif Susanto saat dihubungi <Borneonews>, Minggu (16/1/2015). “Meski Kabupaten Kobar sudah eleminasi dari penyakit malaria, yakni 0,6 per seribu jiwa.

Namun bahaya banjir di perkampungan Raja Seberang, Mendawai Seberang, Raja dan Mendawai serta Kelurahan Baru tetap harus diwaspadai pertumbuhan penyakit malarianya,” terang dia.


Ia melanjutkan dampak banjir itu menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan di masyarakat. Nyamuk Aedes aegypti awalnya berkembangbiak di air bening yang tidak ada kontak dengan tanah seperti genangan air dalam botol, ban dan sampah, justru pascabanjir seluruh sampah naik ke permukaan air. “

Sehingga air menjadi keruh dan kondisi ini justru menjadi tempat berkembangnya nyamuk Anopeles (penyebab malaria),” cetus dia.


Menurut Arif, kondisi ini justru harus memicu warga untuk membersihkan sampah-sampah di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Apalagi, sampah yang dulu sulit diambil karena berada di bawah kolong rumah, saat ini sudah naik ke permukaan dan lebih mudah dibersihkan.


“Selain mewaspadai malaria warga juga saat ini rentan terhadap penyebaran penyakit diare. Sumur bor dan sumur gali serta pipa yang kemasukan air banjir berpotensi untuk terjangkit penyakit diare.”
(KK/B-8)