MANTAN pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jilid II (2007-2011), Irjen (purn) Bibit Samad Rianto, merasa tertipu oleh oraganisasi aliran sesat sejak pertengahan 2012 sampai 3 Januari 2015. Selepas dari komisi antirasuah itu, ia menjadi ketua Dewan Pembina Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).


Bibit merasa dimanfaatkan pamornya untuk mendulang masa pengikut Gafatar di 18 provinsi. Ujung-ujungnya, purnawirawan perwira tinggi bintang dua Polri berusia 70 tahun itu merasa kesal bercampur malu.


Awalnya, Bibit -- yang pernah menjabat Kapolda Kalimantan Timur (1997-2000) -- terpikat perkataan seorang pemuda di sebuah kolam renang umum. Sang pemuda menghampiri bapak empat orang anak itu dan mengajak untuk bergabung dalam organisasi yang baru dibentuk dengan konsentrasi kegiatan pada bidang sosial, pendidikan, dan kesehatan.


Bibit tidak tahu mengapa pemuda itu hadir di sela kegiatan berenang yang rutin dilakukannya dua kali seminggu. Tetapi, entah mengapa ia sontak tertarik meski baru pertama kali bertemu.


‘’Saya tidak menyangka hal negatif dari penuturan pemuda yang aktif, ramah, dan spontan ketika mengajak berdiskusi panjang soal pendidikan, pemberantasan korupsi, dan masalah sosial itu,” kata Bibit, yang lahir di Kediri, Jawa Timur, 3 November 1945.


Terus dikunjungi


Setelah pertemuan itu, selang beberapa hari si pemuda berkunjung ke rumahnya. Hubungan baik pun berlanjut. Di setiap kunjungannya, dia jelaskan bahwa organisasi Gafatar murni bergerak atas dasar sosial dan pembiayanya berasal dari iuran anggotanya.


Bibit, yang pernah menjadi pengurus Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK), merasa yakin atas penuturan pemuda tersebut. Di sisi lain, ia ingin kembali aktif setelah lengser dari kursi pimpinan KPK.


Gayung bersambut, Bibit pun bersedia masuk Gafatar dan langsung ditunjuk sebagai ketua Dewan Pembina. Sejak itu, ia pun aktif mengisi sejumlah kegiatan yang dilaksanakan Gafatar.


“Selama itu saya sering diundang mengisi acara seminar di beberapa daerah dan hadir dalam rapat kerja nasional DPP Gafatar yang dilaksanakan dua kali, salah satunya di Makassar (Sulawesi Selatan),” tutur suami Sugiharti itu.
(MI/B-1)