Berita tentang adanya orang hilang masih saja terdengar. Terutama melalui laporan para warga yang kehilangan anggota keluarga mereka.


Laporan muncul dari berbagai daerah. Seperti dari Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, Lampung dan Palembang.  Diperkirakan masih banyak lagi  laporan warga kepada polisi yang tidak terekspose di media massa.  Atau, malah banyak warga yang tidak melaporkan anggota keluarga mereka yang pergi dan tidak pulang-pulang tersebut.


Banyak cara menuju ke Roma. Demikian bunyi pepatah. Dan hal itulah yang dijadikan prinsip bagi para penganut paham ekstrim untuk mencapai tujuan.  Untuk bisa bergabung menjadi bagian dari organisasi ekstrim di Suriah atau yang dikenal sebagai organisasi ISIS, orang berpura-pura sebagai turis.


Mereka berkunjung ke Turki menggunakan jasa biro-biro atau agen perjalanan. Dengan modus yang sama, ada juga yang lewat Mesir.  Tujuannya adalah ‘menyelundupkan diri’ lewat jalur-jalur ilegal menuju Suriah.


Di Suriah,  mereka berbagung dengan kelompok politik  radikal . Salah satu bukti radikalitas  yang  bisa kita lihat adalah mengorganisasi orang-orang berpengetahuan cepak untuk melakukan tindak kekerasan, seperti teror dengan cara melakukan pengemboman dan pembunuhan.


Modus menghilangkan diri dari keluarga juga dilakukan komunitas ekstrim yang selama ini menamakan diri sebagai Gafatar.   Mereka menghilangkan jejak di tempat asalnya, lalu menyelundup ke daerah lain seperti Kalimantan.  Mereka tinggal di suatu tempat yang terisolasi, dan hidup sebagai petani.


Dari berbagai penelusurana yang harian ini lakukan, belum ada informasi bahwa komunitas Gafatar menjalin komunikasi dengan warga desa di sekitarnya.  Semuanya serba tertutup. Termasuk, anak-anak pun tidak bermain dan bersekolah di tempat umum.


Dan, yang terasa aneh,  baik aparat, petugas, perangkat desa belum ada yang  mendatangi permukiman ekslusif  itu. Padahal wajib hukumnya, warga baru harus terdata dan terdaftar di pengurus RT, RW, Desa atau Kelurahan setempat.    


Kiranya para petugas dan pengurus  tersadar hatinya dan  tergugah pikirannya untuk  membuka isolasi kaum Gafatar, baik yang sudah berganti nama maupun yang menyatakan sudah bubar itu. Tujuannya adalah  mencegah terjadinya ekslusivisme, ekstrimisme, dan radikalisme yang kelak tiba-tiba menghenyak dan menghentak kita.


Sadar atau tidak, Kalimantan adalah tujuan eksodus kaum Gafatar. Boleh saja mereka menyatakan bubar. Boleh saja berganti nama. Tapi ibarat baju, Gafatar bisa saja sehari tiga kali berganti baju. Tetapi ingat, isi kepala, isi hati, badan mereka tetap utuh.  Karena itu, sangat mungkin suatu saat nanti, bom waktu meledak. Dan, kita semua terbelalak!