PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) melalui dinas terkait telah melakukan langkah setrategis untuk menekan angka stunting di Kobar.

Kepala Bidang Keluarga Berencana Dinas P3AP2KB, Jamin Ginting mengatakan, dalam upaya menekan percepatan penanganan stunting di Kobar, pihaknya telah membentuk tim pendamping keluarga.

"Tim pendamping keluarga di Kobar ini, kurang lebih sekitar 208 tim dengan jumlah anggota 624 orang. Setiap tim itu ada tiga orang, di situ ada unsur PKK desa, bidan desa, ada juga unsur kader KB-nya. Ini nanti sebagai ujung tombak kita di daerah untuk mendampingi setiap keluarga beresiko stunting," ujarnya, saat dikonfirmasi Borneonews belum lama ini.

Pendampingan yang diberikan mulai kepada calon pengantin. Minimal 3 bulan sebelum dia nikah harus didampingi. Jadi, lanjut dia, dilakukan pengecekan dulu kesehatannya, sehingga calon pengantin ini benar-benar sehat.

"Kita pastikan bahwa calon pengantin, terutama perempuan itu dalam keadaan sehat. Setelah dia nikah dan hamil pun kita dampingi, sampai melahirkan hingga pertumbuhan balitannya," ungkapnya.

--page

Dia menambahkan, stunting itu penyebabnya ada dua faktor yaitu faktor langsung dan tidak langsung. Adapun faktor langsung terkait dengan masalah gizi. Jadi, lanjut dia, gizi kronis sejak dalam kandungan, kemudian pasca dilahirkan sampai usia 5 tahun.

"Kalau balita itu dilahirkan kemudian dalam kandungan juga dia sudah tidak sehat, lalu dilahirkan juga sakit-sakitan, itu juga bisa menjadi faktor resiko stunting yang langsung," tuturnya.

Tapi kalau faktor tidak langsung, biasanya terkait dengan pengetahuan orang tua atau ibunya, kemudian juga faktor ekonomi dan sebagainya. Tetapi secara garis besar, bahwa stunting itu disebabkan oleh masalah gizi kronis yang berkepanjangan.

"Artinya sejak di dalam kandungan, ketika ibu hamil itu tidak mengkonsumsi gizi yang baik, cukup dan sehat," jelasnya.

Menurutnya, penyebab stunting di Kobar rata-rata faktor gizi, karena mungkin terkait ekonomi, kemudian juga ketidaktauan sang ibu. "Orang tuanya tidak mengerti bagaimana memberikan gizi yang seimbang bagi calon bayinya maupun bayinya setelah dilahirkan," tuturnya. (DANANG/B-7)