Lulusan Akademi ABRI 1970 itu mengaku di setiap kesempatan selalu bertanya tentang latar belakang dan tujuan Gafatar kepada sejumlah pengurus, termasuk kepada pemuda yang mengajaknya masuk. Namun, selama itu pula ia tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu.


“Kenapa saya mencari tahu lebih dalam soal latar belakang dan tujuan organisasi itu, karena selama saya berada di sana ada beberapa kejanggalan,” kata Bibit Samad Rianto.


Kejanggalan itu, menurut Bibit, seperti mereka tidak terlalu apresiasi terhadap setiap penjelasannya dalam seminar tentang pemberantasan korupsi. Dalam pengamatannya juga setiap kegiatan Gafatar banyak penolakan dari masyarakat.


‘’Dari situlah keingintahuan saya soal Gafatar lebih dalam dengan mencoba meminta penjelasan terhadap pengurus DPP Gafatar,” kata Bibit.

Bertemu Mesias


Ia pun mencoba mencari melalui internet dan mengunduh semua tentang Gafatar. Termasuk soal surat pendaftaran sebagai organisasi sosial masyarakat (orma) yang belum bisa dikeluarkan dari Dirjen Kesbangpol Kemendagri karena ada keterkaitan dengan paham Al Qiyadah Al Islamiyah yang telah dilarang oleh pemerintah.


“Tibalah saya diantarkan oleh pemuda itu untuk bertemu Mesias, dan ternyata Mesias itu pimpinan tertinggi Gafatar yang diyakini dia pembawa selamat, penebus dosa, dan nabinya,” lanjut Bibit.


Sekitar akhir Desember 2014, Bibit dipertemukan dengan Mesias di sebuah perkantoran di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. “Ternyata, Mesias itu adalah yang diduga Ahmad Musadeq dan disimpulkan sebagai organisasi yang menurut saya sangat menutup rapat jati dirinya. Mereka memiliki misi mengampanyekan aliran agama baru,” katanya.


Setelah mendapatkan pemaparan langsung dari sang Mesias, penguasa, dan pengarah utama Gafatar, Bibit langsung menyatakan mengundurkan diri di hadapan Ahmad Musadeq. “Karena jelas organisasi itu bertentangan dengan ideologi saya dan kepercayaan yang saya anut.

Pada hari yang sama (3 Januari 2015), saya kirim surat pengunduran diri dan sejak itu saya menghindar jauh dari Gafatar,” terangnya.


Ia mengatakan, sampai isu Gafatar ini merebak belum pernah diminta keterangan dari pihak pemerintah dan penegak hukum. “Namun jelas pengalaman saya ini sangat penuh penyesalan dan tertipu oleh kedok yang akhirnya bisa saya buka sendiri,” tandasnya. (MI/B-1))