TANGGAL 9 Maret 2016 akan menjadi hari bersejarah bagi warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Ini karena gerhana matahari total (GMT) yang terjadi 64 tahun sekali itu akan dapat disaksikan di ibu kota Kalteng itu.


Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalteng, Yuel Tanggara menuturkan, kondisi langka ini harus bisa dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata. Sebab, hanya sedikit kota di Indonesia yang bisa menyaksikan gerhana matahari total itu.


Yuel memperkirakan, akan banyak warga luar daerah yang mengunjungi Palangka Raya menjelang momen itu tiba. “Kami sedang menyusun konsep promosi serta kegiatan penunjang wisata yang berkaitan dengan GMT tersebut. Dengan munculnya GMT di Kota Cantik menjadi peluang untuk mendongkrak pariwisata daerah,” ungkap Yuel, usai mengikuti rapat koordinasi (rakor) soal GMT di Palangka Raya, Selasa (19/1/2016).


Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah (Sekda) Kalteng, I Ketut Widhie Wirawan juga mengatakan, peristiwa langka tersebut harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Apalagi, lanjutnya, Institut Teknik Bandung (ITB) pun berencana melakukan penelitian GMT di Palangka Raya, di lapangan bola Universitas Palangka Raya (Unpar) dan dari atap salah satu hotel di Kalteng.


“Melalui momen ini, kita berkeinginan menarik minat para pengunjung agar bertandang ke Kota Cantik, dengan mempersembahkan berbagai event dari pentas seni hingga lomba photografi,” jelasnya.


Jalur GMT 2016 akan bermula di Palembang (Sumatera Selatan), Bangka Belitung, Sampit dan Palangka Raya (Kalimantan Tengah), Balikpapan(Kalimantan Timur), Palu, Poso, Luwuk (Sulawesi Tengah), Ternate dan Halmahera (Maluku Utara), Sulawesi Barat, Bengkulu, Jambi, dan Kalimantan Barat. (TP/B-10)