Oleh : Muchlas Rozikin
RIBUAN Muslim Kota Palangka Raya dan sekitarnya gegap gempita. Mereka mendatangi acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-6 mantan presiden Abdurrahman Wahid alias Gusdur, di halaman Masjid Nurul Islam Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), Senin (18/1/2016) malam.
Kegiatan yang diinisiasi Nahdlatul Ulama (NU) Kalteng dan pengusaha nasional Haji Abdul Rasyid AS itu dihadiri sejumlah tokoh nasional.
Datang bersama Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU) KH Said Aqil Siradj, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrowi dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.
Mereka terkesima dengan penampilan 13 qori yang didominasi anak-anak. Imam Nachrowi pun mengatakan, pentingnya memperhatikan pendidikan dan pembinaan mental sejak anak-anak, juga sekaligus pentingnya kegiatan kepemudaan dan olahraga.
“Jadi marilah kita mengolahragakan masyarakat, dan memasyarakatkan olahraga, disamping pembinaan mental agar kepribadian bangsa ini terjaga,” kata Menteri Imam, yang juga mantan Ketua Garda Bangsa ini.
Giliran berikutnya Muhaimin Iskandar. Sebagai putra kelahiran Jawa Timur, ia kerap dipanggil Cak Imin. Menteri tenaga Kerja dan Transmigrasi ini menekankan pentingnya mengusung misi kesejahteraan ketika memimpin suatu daerah, sebab misi Nabi Muhammad SAW adalah mengentaskan kemiskinan, kebodohan, dan meningkatkan derajat moral, yang semua terkait dengan kemampuan ekonomi rakyat.
Nasihat bagi pemimpin
Wajar Cak Imin menyampaikan masalah kepemimpinan, sebab hadir di tengah acara tersebut salah satu pasangan calon (paslon) gubernur alteng, Sugianto Sabran dan Habib Said Ismail (SOHIB). PKB bersama Gerindra, PAN, Demokrat, Golkar, dan PPP ikut mengusung dan mendukungnya.
Ia mengingatkan, calon pemimpin agar benar-benar mengelola kekuasaan dengan cara adil. Setidaknya, tips sukses mengelola negara harus disokong empat hal, yaitu dekat dengan ulama, memimpin yang adil, orang kaya yang dermawan, serta perhatian kepada kaum fakir miskin.
Namun yang menjadi ger-geran masyarakat yang hadir, adalah gaya kocak Cak Imin ketika menyinggung Sugianto Sabran. Sebab ia kelihatan merasa bingung harus menyampaikan pesan apa terkait majunya Sugianto Sabran.
“Kalau Pak Kiai Said Aqil berbicara ‘Mari Memasyarakatkan Sholawat dan Mensholawatkan Masyarakat’, lalu tadi Cak Imam bicara tentang tugasnya ‘Mari Memasyarakatkan Olahraga dan mengolahragakan Masyarakat’, nah lalu tugas saya apa?” tanya Muhaimin.
Sejenak kemudian ia bicara: “Tugas saya adalah tinggal ‘Memasyarakatkan Sugianto dan Men-Sugiantokan Masyarakat’.” Ribuan hadirin pun menyambutnya dengan tepuk tangan meriah dan tertawa lepas. (B-1)


