NASIB Siti Lestari (24 tahun) masih misterisus. Hati keluarga yang sangat kehilangannya, merasa hancur. Mereka berharap, dugaan bahwa Siti dibawa ke kancah peperangan di Suriah oleh terduga otak teror di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, tidak benar.


‘’Kami belum menerima kabar apapun terkait keberadaan Siti Lestari, begitu juga dari instansi pemerintah maupun kepolisian,” kata Nur Ahmad, kakak ipar Siti, saat ditelepon Borneonews, Selasa (19/1) sore.


Siti yang kelahiran Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, orang tuanya kini bemukim di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Mereka adalah pasangan Sugiran dan Surati, yang sudah sekitar setahun putus kontak dengan Siti yang sedang kuliah semester akhir di Jurusan Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jawa Tengah, itu.


“Hampir tiap hari saya melihat televisi, setiap dengar nama Bahrun Naim, hati saya terasa hancur,” kata Sugiran, yang ditemui pada Sebnin (18/1/2016) di kawasan Pasar Saik, Jalan Niaga, Nanga Bulik, Lamandau.

Harapan orangtua


Air mata Sugiran tampak tak bisa dibendung saat menceritakan anak keempatnya dari lima bersaudara itu. “Siti itu harapan saya dan isteri,” katanya.


Ia mengenang saat Siti duduk di SDN 3 Nanga Bulik, pernah terkena demam berdarah yang cukup parah. ‘’Nyawanya hampir tidak bisa tertolong lagi,” kata Sugiran, yang merupakan perantauan dari Demak, Jawa Tengah.


Hidup Siti berlanjut dan meneruskan sekolah. ‘’Dia saya sekolahkan, saya kuliahkan, agar tidak bodoh seperti bapak dan ibunya. Agar masa depannya cerah.

Tapi, nyatanya di detik-detik terakhir mau selesai kuliah, dia hilang begitu saja. Hancur hati saya,” rintih Sugiran yang tengah menderita kanker.


Disebut-sebut siti dijadikan istri ketiga Bahrun Naim. Tentang hal ini, Sugiran tidak mau terima, karena tidak pernah menikahkan atau memberikan izin kepada Siti menikah dengan terduga otak teroris itu. (B-1)