PENDAPATAN puluhan supir travel tujuan Kabupaten Sukamara via Kecamatan Kotawaringin Lama (Kolam), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) sejak awal Januari menurun drastis.

Menurunnya pendapatan mereka imbas dari banjir yang memutus jalur jalan lintas Pangkalan Bun-Kolam.

Menurut salah seorang supir travel, Waluyo,  sebelum banjir memutus akses jalan itu, pendapatan mereka per hari mencapai Rp700 ribu hingga Rp800 ribu. Saat ini pendapatan hanya Rp300 ribu. Bahkan  seringkali tak mendapat apa-apa.


 Sebenarnya akses menuju Kecamatan Kolam dari Pangkalan Bun juga bisa ditempuh melalui jalur timur, yakni melewati Kabupaten Lamandau.

Namun Konseuensinya, perjalanan ditempuh lebih lama karena lebih jauh. Tentu saja hal ini berimbas pada membengkaknya biaya operasional.


Pembengkakan operasional mencapai 100%. Biaya operasional dari Pangkalan Bun-Sukamara sekitar Rp200 ribu. Jika lewat Lamandau biaya bisa menjadi Rp400 ribu.

Lebih lama


Selain faktor jarak tempuh, penumpang pun kebanyakan enggan untuk melewati jalur Lamandau. Padahal tidak ada peningkatan tarif penumpang meski biaya operasional membengkak.


Sebab jika lewat jalur Kolam hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam tujuan Sukamara. Sementara melewati Lamandau bisa mencapai 4 jam lebih.


“Kalau lewat Lamandau apabila penumpang penuh maka per orang dikenakan tarif normal Rp150 ribu. Tapi kalau sedikit misal empat hingga lima orang mencapai Rp200 ribu per orang,” kata Agung, seorang supir travel yang ditemui Borneonews di Pangkalan Travel, Rabu (20/1/2016).


Sementara itu, putusnya jalur Pangkalan Bun-Kolam membawa berkah bagi angkutan sungai. Sebab sekali menyeberang menggunakan getek, penumpang harus merogoh kantong Rp100 ribu menuju ke Buntu (desa di pesisir Sukamara) setelah itu baru menggunakan mobil atau motor ke Sukamara.


“Kalau sampai Buntu Rp100 ribu, naik mobil ke Sukamara 75 ribu,” terang Amel, salah seorang calon penumpang speed.(KK/B-7)