Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik keanggotaan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), di Istana Negara, Jakarta, Rabu (20/1/2016). Jumlah mereka 20 orang, dipimpin oleh pengusaha sekaligus politikus Partai Amanat Nasional (PAN), Soetrisno Bachir.


Duduk sebagai wakil ketua adalah Arif Budimanta dan Sekretaris Putri Kuswisnu Wardani. Sedangkan paa anggota, Hendri Saparini, Hariyadi Sukamdani, Eddy Sariatmadja, Sudhamek, Jhonny Darmawan, dan Benny Soetrisno.


Kemudian Mohamad Fadhil Hasan, Benny Pasaribu, Sonny Budi Harsono, Aries Muftie, Muhammad Safii Antonio, M Najikh, Andri BS Sudibyo, Zulnahar Usman, Irfan Wahid, Donny Oskaria, dan Sugiarto Alim.


Menuju negara industri


Pembentukan KEIN didasarkan pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 8  2016 tentang KEIN. menurut Jokow, alasannya membentuk KEIN adalah membantu pemerintah menyempurnakan roadmap pembangunan yang sudah disiapkan untuk jangka pendek, menengah, dan panjang.


“Di dalam KEIN ada pelaku-pelaku (usaha) dan akademisi. Kombinasi itu akan memberikan perencanaan yang lebih detail, baik jangka pendek, memenngah maupun jangka panjang. Saya tadi minta agar detail (roadmap) 50-100 tahun itu ada,” ujar presiden.


Pada masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ada komite khusus bernama Komite Ekonomi Nasional (KEN). Menurut Jokowi, perbedaan utama KEIN dengan KEN terletak pada fokus utamanya, yakni industrialisasi. Ia berharap, industrialisasi dapat mendorong pemakaian sumber daya alam lokal.


Sementara Soetrisno Bachir menambahkan, keberadaan KEIN bertujuan mendorong Indonesia ke arah negara industri. “Tugas KEIN memberikan masukan strategis kepada presiden dalam kaitan permasalahan dan pengembangan sektor industri nasional, sehingga dapat mengarahkan Indonesia menuju negara industri,” kata Ketua Majelis Pertimbangan dan mantan ketua umum PAN itu.
(MI/B-1)