BANJARMASIN - Direktur Umum PDAM Bandarmasih, Banjarmasin Faridah Arianti menyatakan pihaknya tidak bisa menjamin sementara ini air yang dihasilkan dapat diminum langsung, karena kualitasnya yang menurun.
“Jadi sementara ini air yang mengalir dari PDAM baiknya hanya digunakan untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK), tidak bisa dijamin sehat untuk diminum,” terangnya dalam jumpa pers di Kantor PDAM Bandarmasih, Kamis (21/1/2016).
Sebab, tutur Faridah, air ledeng yang diproduksi perusahaan milik Pemkot itu saat ini menurun kualitasnya disebabkan PH air baku di sungai Martapura sangat tinggi tingkat keasamannya, yakni di bawah PH 5. Akibatnya, terjadi kekeruhan air.
“PDAM saat ini kesulitan mengolah air bersih karena keasaman air Sungai Martapura makin tinggi, hingga harus menggunakan bahan kimia yang banyak untuk menjernihkan air dan menghilangkan rasa asamnya,” cetus Faridah.
Meski sudah dilakukan maksimal, ujarnya, tetap saja air yang keluar ke rumah pelanggan mengalami kekeruhan, karena salah satu penyebabnya kerak atau kotoran yang ada di dalam pipa ikut terbawa.
“Jadi ada dua masalah saat ini yang kita hadapi, selain air baku yang asam sulit diolah, saat dialirkan, di dalam pipa banyak kerak atau kotoran yang ikut terbawa, ini karena musim kemarau lalu fungsinya menurun, akibat sering stop produksi,” tuturnya.
Dia memperkirakan, kualitas air bersih yang menurun diolah PDAM ini hingga Februari nanti, karena keasaman air Sungai Martapura saat ini terus meningkat dengan makin turunnya PH ke posisi 5 yang standarnya bisa diolah PH 8-10.
“Terjadinya kondisi alam ini atas pengaruh musim kemarau lalu, di mana banyak lahan gambut yang terbakar. Dan saat hujan, abu hutan terbakar itu turun ke sungai. Ini memang fenomenal,” jelas Farida. (ANT/B-12)








