Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Kotabaru kembali terisolasi. Pasalnya, satu-satunya kapal penyeberangan KM Delta Sembada tidak lagi beroperasi karena kontrak dengan Pemkab Kotabaru sudah habis.
Akibatnya, warga Pulau Sembilan tak bisa berinteraksi dengan Kotabaru daratan. Apalagi, stok persedian sembilan bahan pokok mulai menipis, sehingga warga kesulitan memperoleh bahan makanan.
Tak hanya itu, bagi warga yang sakit keras dan mendesak untuk segera dirujuk ke rumah sakit umum daerah, hanya bisa pasrah menunggu nasib.
“Sekitar pertengahan Desember kapal perintis sudah tidak beroperasi lagi, karena habis kontrak,” ungkap Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri Pulau Sembilan, Palawagau, melalui telepon genggam, Rabu (20/1/2016).
Untuk diketahui, Kecamatan Pulau Sembilan ini terdiri dari sembilan pulau, antara lain Pulau Marabatuan, Denauan, Payung-Payungan, Maradapan,
Matasirih, Pemalikan, Labuan Barat, Kalambau dan Pulau Sarang. Pusat pemerintahan Kecamatan Pulau Sembilan berada di Desa Tengah, Pulau Marabatuan.
“Kami tidak bisa membeli barang dari Kotabaru, karena tidak ada kapal. Apabila ada kapal atau speedboat carteran, biayanya cukup mahal, kisaran Rp3 jutaan,” keluh Palawagau.
Namun demikian, apabila terdapat urusan mendesak dan harus ke Kotabaru daratan, para guru atau warga Pulau Sembilan terpaksa menyeberang menggunakan perahu nelayan meski harus membayar dengan ongkos yang mahal.
“Sebenarnya, kami sangat khawatir atas keselamatan kami sendiri, karena perahu yang dicarter itu kecil. Apalagi saat ini sedang musim barat, sering terjadi gelombang tinggi,” terangnya.
Terjadi setiap tahun
Berdasarkan kesaksian Palawagau, Kecamatan Pulau Sembilan selalu terisolasi setiap akhir hingga awal tahun alias Desember-Januari.
“Karena saat itu, kontrak kapal perintis habis, sehingga perlu waktu untuk kontrak yang baru,” demikian Palawagau.
Seyogyanya, pemerintah daerah atau pihak kementerian perhubungan mengantisipasi masalah tersebut, agar masyarakat di kepulauan tidak mengalami kondisi yang sulit seperti saat ini.
“Sudah satu bulan ini kami tidak bisa berurusan ke Kotabaru, bahkan kami juga tidak bisa mendatangkan bahan makanan, untuk keperluan sehari-hari bagi masyarakat di pulau,” paparnya. (ANT/B-12)








