BADAN Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sukamara be­lum menerima hasil uji la­­boratorium dari sempel air Sungai Jelai dan Sungai Ma­­pam.


Air sungai yang dijadikan se­­­­bagai sampel berasal dari be­­berapa titik. Tujuannya un­­tuk mengetahui kadar pen­ce­mar­an di dua sungai ter­sebut.


Kepala BLH Sukamara Iwan Miraza mengatakan, ha­­sil uji laboratorium air su­ng­­ai biasanya disampaikan se­­­­tiap awal tahun. Namun, hing­­­­ga saat ini be­lum juga di­terima.


“Terus terang saja, hari ini ka­mi belum menerima hasil la­boratoriumnya,” kata Iwan Mi­raza, Kamis (21/1/2016).


Ia menyebutkan, hasil uji la­boratorium terbaru nantinya akan dikompilasi dengan ha­sil uji sebelumnya. Hal itu un­tuk mengetahui seberapa be­sar perubahan tingkat pen­ce­maran yang terjadi.


Selain itu, hasil uji labora­to­ri­um terbaru begitu penting ka­­rena sempel air diambil han­ya berselilih beberapa ha­ri dari kejadian mati­nya ribuan ikan di keramba war­ga.


“Hasil sempel yang sekarang begitu penting. Kenapa? Karena sampelnya kita am­bil berselisih lima hari se­belum terjadinya kasus (ma­tinya ikan keramba) di Su­ngai Jelai. Sehingga dapat ki­ta nyatakan secara teknis ber­da­sarkan hasil laboratorium yang memang tidak jauh da­ri waktu kejadian,” ung­kap­nya.


Ia melanjutkan, uji labora­to­rium sampel air juga meru­pa­kan salah satu bentuk pe­mantauan status mutu air Sungai Jelai dan Mapam. Se­hingga pengelolaan lingku­ng­an hidup dan perusahan per­kebunan kelapa sawit di hulu Sungai Jelai dapat ter­pan­tau.  


Ia menyebutkan, pemanta­uan air Sungai Jelai dilakukan secara berkala. Dalam pe­mantauan, biasanya akan di­uji parameter air seperti PH (kadar keasaman), DO (dissolved oxygen), suhu, turbidity (kekeruhan), DHL (daya hantar listrik), dan oil in water (lapisan minyak di air). “Sebagain bahan analisis tersebut diteliti supaya ki­ta dapat mengetahui status mu­tu air sungai,” ujar Iwan Mi­raza.
(MG13/B-3)