BORNEONEWS, Palangka Raya - Pemerintah terus memantau perkembangan kasus Covid-19 di Tanah Air yang saat ini masih terkendali.
Hal itu ditunjukan dengan perkembangan kasus yang mengalami penurunan dan relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.
“Perkembangan kasus di sejumlah negara seperti di Jepang masih tinggi 218 ribu, Amerika, Australia, dan India pun angkanya relatif tinggi. Sedangkan di Indonesia dengan kasus sekitar seven day moving average sekitar 4.683 dan relatif lebih rendah dari berbagai negara lain,” kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Sementara Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa saat ini masyarakat Indonesia memiliki level antibodi yang tinggi.
Oleh sebab itu kasus Covid-19 Omicron subvarian BA.4 dan BA.5 di Tanah Air masih relatif lebih rendah dibandingkan negara lainnya.
“Jika dibandingkan Desember 2021, hanya 88 persen dari masyarakat yang memiliki antibodi sekarang naik ke 98,5 persen. Level antibodinya yang tadinya cuma sekitar 400-an unit per mililiter sekarang naik lebih dari 2 ribu unit per mililiter. Ini membuktikan populasi masyarakat Indonesia sudah sangat terlindungi dari level antibodinya,” katanya.
Menkes menegaskan tingginya kasus konfirmasi harian di berbagai negara lain akan mengakibatkan terjadinya mutasi dan munculnya varian baru yang diperkirakan terjadi pada awal 2023.
Masyarakat pun diimbau untuk waspada terkait munculnya varian baru tersebut salah satunya dengan menjaga level imunitas masyarakat.
--page
"Sekarang ujiannya 6 bulan lagi, sekitar bulan Januari, Februari, Maret 2023. Kalau kita benar-benar bisa melampaui itu sama seperti sekarang, Indonesia mungkin menjadi selected few negara yang bisa menangani pandemi ini 12 bulan berturut-turut. Salah satu caranya, kita harus menjaga level imunitas setinggi sekarang,” ungkapnya.
Sementara berdasarkan data yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 Kalteng, Jumat 26 Agustus 2022 total vaksinasi Kalteng dari total target 2.036.104 orang sudah mencapai 100,34 persen untuk dosis pertama dan dosis kedua tercapai 84,93 persen sedangkan booster baru mencapai 26,36 persen. (HERMAWAN DP/B-6)









