Sekjen Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Erlinda, me-ngungkapkan, Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) juga menyasar masyarakat usia muda, seperti mahasiswa. Mereka menyusup ke organisasi kemahasiswaan seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) untuk mengajarkan pemahamannya.
“Mereka yang anak remaja banyak yang tertarik karena engga perlu capek-capek puasa, salat. Ajarannya pun menggabungkan yang ada di Islam, Kristen, dan Yahudi,” ujar Erlinda, di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (21/1/2016).
Ia menambahkan, Gafatar berpotensi menentang ideologi bangsa. Pencegahan dan penanganan harus diserrakan karena ajaran tersebut bisa menjadi bibit radikalisme dan berbahaya jika tidak dimatikan sampai ke akarnya sejak sekarang.
“Kami mendesak polisi untuk bertindak cepat menangani penyebaran ajaran Gafatar,” kata Erlinda. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Charliyan mengatakan, di Yogyakarta, ada 15 anak-anak yang hilang dan dicurigai mengikuti aliran Gafatar dan pergi ke Kalimantan Barat (Kalbar).
Ada juga laporan 50 orang asal Yogyakarta bergabung dengan Gafatar. ‘’Dari jumlah itu, baru satu yang ditemukan,” ungkap Anton.
Sementara itu, saat ini masyarakat Mempawah, Kalbar, menolak kelompok Gafatar tinggal di daerahnya. Mereka diusir, bahkan salah satu mobil diduga milik salah satu anggota Gafatar di bakar warga. Sekarang kelompok warga Gafatar ini diungsikan ke tempat aman.
Aparat keamanan dari kepolisian dibantu TNI menjaga keamanan mereka dari penolakan masyarakat setempat. “Kami antisipasi supaya tidak terjadi serangan dari warga terhadap mereka. Bagaimana pun juga mereka adalah warga yang harus kita lindungi,” terang Anton. (ANT/MI/B-1)








