ANGGOTA Komisi II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan kita.  Saat ini, musim hujan  sudah mulai mengkhawatirkan. Tingginya curah hujan,  mengakibatkan bahaya banjir terus mengintai.


Anggota Komisi II DPRD Kotim yang bernama Roy Lumban Goal itu meminta, agar pemerintah mengambil langkah konkrit untuk mengantisipasi banjir.Terutama banjir yang merendam lahan pertanian.


Ia mengaku prihatin melihat kondisi pertanian di daerah itu. Selalu mengalami kekeringan jika musim kemarau, dan mengalami kebanjiran jika musim hujan.


Menurut Roy, petani membutuhkan pengarian yang teratur.  Terutama  di saat musim hujan.  Tetapi celakanya, demikian Roy,  di saat musim hujan, lahan pertanian kebanjiran.


Roy tampaknya telah mencium persoalan yang sangat serius, mengapa lahan pertanian selalu kebanjiran di musim hujan. Dan sebaliknya, keke-ringan di musim kemarau. “Sebabnya adalah, irigasi tidak normal,” kata Roy yang berasal dari Fraksi PAN itu.


Soal irigasi yang tidak normal ini, menjadi ciri umum di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Tengah. Buruknya infrastruktur pertanian (irigasi) menjadi personal serius, sebagai contoh, dalam sebuah penelusuran harian ini,  dari sepuluh pintu air yang ada di sebuah hamparan sawah seluas 1.000 hektar,  yang berfungsi baik  hanya satu unit.


Yang menarik dicatat, sembilan unit lainnya, bukan rusak, Tetapi memang tidak berfungsi dari awal  sejak dibangun.  Ada yang memang salah desain. Ada yang pembuatannya tidak memenuhi spek, ada pula yang salah konstruksi.


Malfungsi infrastruktur pertanian seperti ini, bukan hanya terjadi di Kotawaringin Timur. Tetapi juga terjadi di mana-mana.


Karena itu,  daerah-daerah yang berkomitmen menjadi pendekar di sektor pangan, hendaknya melakukan audit infrastruktur.  Tanpa melakukan audit infrastruktur, maka berbagai macam target capaian produksi pertanian, hanyalah angka-angka yang tak berarti apa-apa alias omong kosong.