JAKARTA - Lebih dari 95% masyarakat Indonesia menolak keberadaan ISIS (Islamic State of Syria and Iraq). Ini  berdasarkan survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Desember 2015.

Direktur Utama SMRC, Djayadi Hanan, dalam rislisnya pada Jumat (22/1/2016) di Jakarta, mengungkapkan, 62% responden yang menjadi representatif warga Indonesia mengetahui adanya ISIS. Sebanyak 0,3% di antaranya menyatakan ISIS boleh didirikan di Indonesia dan 0,8% menyatakan setuju denganyang diperjuangkan oleh ISIS.

Sedangkan hampir 90% responden tidak setuju dengan ideologi serta yang diperjuangkan ISIS. Mereka menganggap kelompok bersenjata tersebut sebagai ancaman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya menyadari keberadaan ISIS, namun pada saat yang sama tidak setuju dengan apa yang diperjuangkan ISIS, menganggap ISIS sebagai ancaman dan menolak kehadiran ISIS di Indonesia. Sementara 4,4% responden menganggap ISIS bukanlah ancaman bagi NKRI," kata Djayadi.

Temuan dari survei tersebut memiliki kesamaan dengan penelitian dari lembaga riset PWR Research Center pada 2015. Mereka mengungkapkan bahwa negara-negara dengan mayoritas muslim menolak keberadaan ISIS.

Survei SMRC juga mengungkapkan penolakan terhadap ISIS tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia, laki-laki maupun perempuan, serta usia muda hingga tua, pendidikan rendah dan tinggi, seluruh etnis dan seluruh agama. Survei SMRC dilakukan pada 10 hingga 20 Desember 2015 di seluruh provinsi di Indonesia, dengan 1.220 responden yang dipilih secara random. (ANT/B-1)