PETANI padi di Desa Bumiharjo, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) membutuhkan irigasi persawahan. Ketua DPRD Kobar, Triyanto menuturkan, saluran irigasi di daerah tersebut sangat dibutuhkan, karena pada waktu-waktu tertentu, terutama di musim penghujan, lahan persawahan warga kerap terendam air.
Sedangkan di saat musim kemarau, para petani selalu kesulitan mendapatkan air dan mengalami kekeringan.
“Lahan sawah di Bumiharjo ini sebenarnya bagus. Mereka menanami pematang dan pinggiran sawah dengan tanaman sayur-sayuran dan hortikultura lainnya.
Hanya saja, beberapa persawahan di sana belum ada saluran irigasinya. Jadi kalau sedang musim penghujan, sawah mereka masih sering kebanjiran,” kata Triyanto, Jumat (22/1/2016).
Triyanto mengaku tengah memikirkan cara agar lahan persawahan petani di Bumiharjo memiliki saluran irigasi. Baik saluran irigasi yang dibuatkan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU), swakelola Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak), maupun swadaya oleh para petani.
“Tapi kalau saya lihat, memang agak sulit memasukkan alat berat ke sawah yang belum ada irigasinya tanpa merusak tanaman yang sudah ada. Mudah-mudahan alat berat yang kecil itu masih bisa.”
Permasalahan irigasi juga terjadi di palah persawahan di Desa Sabuai, Kumai. Anggota Komisi B DPRD Jamjuli Zam Zam menuturkan, terdapat belasan saluran irigasi di lahan persawahan di Desa Sabuai yang hingga kini tak berfungsi atau dimanfaatkan, baik saluran irigasi primer, sekunder dan tersier.
“Jadi saluran primer yang harusnya ada airnya, ini sama sekali tidak ada airnya. Apalagi saluran sekunder dan tersiernya. Pintu air banyak yang tidak berfungsi,” ujar Jamjuli Zam Zam, belum lama ini. (RD/B-2)


