TIGA bocah SD yang tertangkap basah tengah menghirup lem atau ngelem di Nanga Bulik, Lamandau, menjadi perbincangan hangat serta menuai komentar bernada prihatin dari berbagai kalangan.


Seperti yang disampaikan konselor anak, Yursiana Permatasari, Jumat (22/1).


Dia menilai, aksi kenakalan yang dilakukan murid SD itu merupakan fenomena “puncak gunung es” atas ancaman kondisi sosial masyarakat khususnya di sebuah kota yang mulai berkembang dan sibuk dengan hiruk pikuknya seperti Nanga Bulik. Tetapi kurang dibarengi dengan fungsi kontrol sosial yang seimbang.


“Saya meyakini bahwa fenomena ini tidak terjadi dengan sendirinya. Karena pasti ada hal yang salah dari peranan berbagai pihak. Baik dari dalam lingkungan keluarga, masyarakat umum ataupun yang merepresentasikan pemerintah yaitu sekolah,” katanya.


Atas kondisi ini, sambung dia, jangan sekali-kali menyalahkan anak, karena anak usia 8 hingga 12 tahun kategorinya masuk pada tahapan ‘operasional konkret’, dalam arti si anak sudah rasional dan logis.


Sehingga jika tindakan anak itu melenceng, yang salah itu adalah yang faktor yang memengaruhinya.


“Anak pada fase ini (operasional konkret) sangat memerlukan figur dan cenderung peniru. Karenanya, jika itu baik orang tua, masyarakat, atau lingkungan sekolah lebih banyak memberikan pengaruh negatif dibandikan dengan pengaruh positif, maka yang dominan dilakukan adalah hal negatif, begitupun sebaliknya,” bebernya.


Diharapkan, semua pihak berperan dengan tupoksinya masing-masing.


Misalnya, ungkap dia, sekolah jangan hanya memberikan pendidikan umum saja, tetapi juga memberikan edukasi konseling yang cukup, lingkungan tidak senantiasa membiasakan responsif dengan hal-hal janggal dimulai dengan yang kasat mata. Yang terpenting adalah peran keluarga dalam memberi contoh.(B-11)