Sebuahmuseum Indonesia yang menampilkan pluralisme dan kemajemukan budayanya sedangdididirikan di Vatikan. Pendirian museum itu merupakan suatu bentuk diplomasibudaya dan merupakan kehormatan bagi Indonesia untuk menunjukan budayapluralisme tidak hanya kepada Vatikan tetapi juga kepada dunia.

Demikianditegaskan oleh Dubes baru untuk Vatikan, Antonius Agus Sriyono di Jakarta, diAkademi Sekretaris St. Mary’s College, Jakarta, Rabu (20/1). Pernyataan itudiungkapkannya saat mengunjungi kelompok budaya, MIA  PATRIA, pimpinan L.Putut Pudyantoro yang pada tahun 2016 akan mengadakan lawatan ke Eropa termasukVatikan. Tahun ini merupakan lawatan ke luar negeri keempat bagi Mia Patria,yang didirikan pada tahun 2008.

“Vatikanadalah negara kecil yang besarnya hanya 34 ha. Tetapi tidak ada yangmemungkiri, bahwa Vatikan adalah negara yang memiliki pengaruh paling besarkepada negara-negara di dunia. Membangun museum Indonesia di Vatikan merupakanlangkah yang tepat terkait dengan diplomasi budaya, yang sekarang dilakukanIndonesia,” ujar Agus Sriyono.

Menurutnya,pembangunan museum Indonesia di Tahta Suci itu diperkirakan akan selesai padaawal Oktober 2016. Dalam museum itu ada beberapa ikon Indonesia termasuk antaralain Borobudur yang ditampilkan. Pertemuan dengan Mia Patria, demikiandijelaskan lebih lanjut, adalah kegiatan pertama yang dilakukannya setelahpelantikan dan sebelum berangkat menunaikan tugas ke Vatikan. Mia Patria,menurut pria asal Magelang itu, telah memresentasikan kemajemukan budaya diIndonesia ke luar negeri, Eropa dan Amerika Serikat. Perjalanan kelompok ini keluar negeri dalam rangka titian budaya dilakukan jauh sebelum dirinya menjadidubes dan kelompok ini sudah menunjukkan komitmen sebagai duta budaya Indonesiameskipun tidak secara resmi.  

“Saya hanyameneruskan apa yang telah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu saya sebelumnyaterkait dengan diplomasi budaya. Perjalanan Mia Patria berkeliling Eropabeberapa kali dan Amerika beberapa waktu lalu telah menunjukkan keseriusankelompok ini dalam membawa kemajemukan budaya Indonesia,” ujarnya.

Agus Sriyonojuga sedang merancang wisata religi ke Larantuka bagi peziarah yang datang keVatikan. Menurutnya, ada lima juta peziarah dunia yang datang ke Vatikan untuksetiap tahunnya. Dengan usaha yang terpadu  di antara para duta besar,diharapkan beberapa persen peziarah ke Vatikan akan melakukan perjalananreligius ke Larantuka dan ini jelas menumbuhkan ekonomi daerah tersebut.

Sementaraitu, menurut L. Putut Pudyantoro, Mia Patria terbentuk pada tujuh tahun laluyakni 26 November 2008. Lawatan ke luar negeri pertama dilakukan Mia Patriapada 2010 ketika Prapto Martosetomo menjabat sebagai Dubes Indonesia untukVatikan. Ketika pergantian pimpinan, Prapto Martosetomo kemudian memperkenalkankelompok ini kepada penggantinya, Burdiaman Bahar. Setelah masa jabatanselesai, Burdiaman Bahar kemudian memperkenalkan Mia Patria kepada AgusSriyono.

Menurutrencana, dalam lawatan keempatnya ke luar negeri pada 2016, Mia Patria akanmengadakan gelar budaya di Belanda, Belgia, Vatikan, Austria (Salzburg,Innsburg, Wina),  Swiss (St. Gallen), Jerman (Manheim, Heidelberg,Frankfurt) dan Prancis Selatan.  Lawatan sebelumnya adalah pada 2013 keAmerika Serikat (New York, Philadelphia, Washington, Patung Liberty, New Jerseydan Brooklyn), pada 2012 ke Vatikan, Italia (Bolzano), Swiss (St. Gallen, Zurich,Luzern, Konstan), Jerman (Aulendorf, Mannheim, Heildelberg, Frankfurt, Bonn),Liechtenstein, Austria, Prancis dan pada 2010 ke Vatikan, Italia (Bolzano),Swiss (St. Gallen), Jerman (Aulendorf, Meitingen, Mannheim, Frankfurt danBonn). (*)