TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Tepat di bawah gardu listrik depan Pasar Tamiang Layang Kabupaten Barito Timur, Solikin berjualan jagung manis, tomat, terong, kangkung, sawi, bayam dan jengkol dengan diterangi satu buah bohlam. Pria 55 tahun asal Blitar Jawa Timur ini menggelar dagangannya di atas terpal yang dibentangkan di trotoar.

Solikin tidak banyak bicara ketika melayani pembeli, namun selalu berlaku ramah. Kadang berjongkok mengambilkan barang yang akan dibeli, kadang juga dia tetap duduk bersila di atas alas duduk karung plastik.

"Karung plastik ini yang saya pakai tidur di dalam pasar, kalau motor tetap diparkir di luar," ceritanya kepada Borneonews saat mulai berjualan selepas magrib, Minggu, 4 September 2022.

Ternyata pria yang memiliki tiga putra dan dua diantaranya sudah menikah ini setiap malam sehabis berjualan tidur di dalam area Pasar Tamiang Layang dengan hanya beralaskan karung plastik. Jika barang jualannya masih tersisa maka pagi hari dia akan pindah berjualan di trotoar depan SMAN 1 Tamiang Layang.

Untuk mandi Solikin biasanya menumpang di sekolah tersebut, sedangkan untuk mengisi perut dia membeli makanan di warung terdekat.

"Nggak ada yang marah saya numpang mandi di sana, orang-orang semua baik sama saya. Paling tiga hari sekali baru saya pulang lihat rumah di Telang karena rumah itu juga belum tertutup semua dan saya sendiri aja di sini, keluarga di Jawa semua," ungkap kakek satu cucu yang masih balita ini.

Jika barang jualannya habis, Solikin akan ke wilayah Ampah dan sekitarnya untuk membeli langsung sayuran dari petani kemudian dijual lagi di Tamiang Layang. Kesempatan itu juga yang biasa dimanfaatkan pria yang sudah 10 tahun merantau ke Kalimantan ini untuk menilik rumahnya yang berjarak sekitar 22 kilometer dari Tamiang Layang.

Meski harus melakoni keadaan seperti ini, Solikin merasa keadaannya sekarang jauh lebih baik dibanding saat masih jadi kuli bangunan yang sangat menguras tenaga atau saat hanya berjualan semangka hasil kebun sendiri yang harus menunggu panen baru bisa memegang uang. Apalagi usianya juga tidak muda lagi.

"Sekarang tidak terlalu capek, banyak kenalan dan terhibur, orang di sini baik-baik dan ramah-ramah seperti sudah kenal lama dengan saya," tuturnya tentang pekerjaan yang mulai dijalankan sekitar 4 bulan lalu itu.

Sebelumnya sejak 2 tahun lalu Solikin berkebun semangka di Telang dan menjual hasil panennya ke Tamiang Layang dan Ampah. Setiap kali selesai menjual semangka ke Ampah, dia pulang tanpa membawa apapun pada kotak atau rombong yang ada di sepeda motornya, kemudian 4 bulan lalu terbersit dalam pikirannya untuk mencoba membawa jagung manis dari Ampah untuk di jual ke Tamiang Layang.

"Ternyata laku, akhirnya saya melanjutkan jualan jagung sambil berkebun," kisahnya mengenang kembali awal berjualan jagung manis.

Bukan cuma jagungnya yang laris, Solikin juga mendapatkan dukungan dari pelanggan yang menyarankan agar barang jualan ditambah dengan sayur-sayuran yang lain, saran itupun dipatuhinya dan ternyata makin banyak pelanggan yang mendukungnya. Bahkan dia mengaku sering kali ada pelanggan yang tidak mau menerima uang sisa belanja atau kembalian.

"Angsulan (kembalian) saya kasih sering ditolak. Yang saya senang bukan berapa uangnya yang dikasih ke saya tetapi karena kebaikan orang itu ke saya, saya dihargai, saya tidak pernah dikasari atau diusir dari sini," ucapnya haru.

--page

Sebenarnya Solikin menjual sayuran segar dengan harga lebih murah dibandingkan di tempat lain karena dia membeli atau kulakan langsung dari petani di wilayah Ampah yang berjarak sekitar 46 kilometer dari Tamiang Layang. Hal ini juga yang mungkin membuat dia mendapatkan pelanggan yang mendukung usahanya.

Kini penghasilan Solikin lebih baik dan stabil, dia pun bisa lancar mengirim uang untuk keluarga dan membiayai satu anak yang masih duduk di kelas 1 SMK meski sudah lebih dari setahun belum bisa mudik ke Blitar. Untuk melepas kangen dengan istri, anak dan cucu, Solikin hanya mengandalkan aplikasi perpesanan pada telepon genggamnya.

"Mudah-mudahan ini bisa berkembang supaya saya bisa mengajak keluarga usaha di sini, istri belum pernah ke Kalimantan tapi anak yang sudah pernah datang kunjungi saya di sini," harapnya. (BOLE MALO/B-6)