SEKELOMPOK orang yang diduga sebagai anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang bermungkim di Desa Kartamulia, Kanupaten Sukamara sejak 6 bulan lalu terus diselidiki polisi.
Wakapolre Sukamara, Kompol Yoyo Ruswandi mengatakan jika polisi terus mengembangkan penyelidikan dengan menggali informasi kepada warga yang diduga sebagai anggota Gafatar itu.
Setiap hari polisi mengamati kegiatan mereka dan warga sekitar. Selama mereka masih tertutup dan tidak mau bergaul seperti layaknya masyarakat lainnya.
“Yang diduga anggota Gafatar atau mantan yang menetap di sini, selama ini anggota sudah memonitor. Data memang sudah ada, tapi kalau untuk masalah mereka menyebarkan ajaran, mereka masih belum ada bukti,” katanya.
Yoyo melanjutkan berdasarkan pemantauan warga, aktivitas mereka hanya bercocok tanam, sehingga pihak kepolisian masih belum bisa membuktikan apakah mereka mengajarkan yang bertentangan dengan agama.
Sebelumnya Wakil Bupati Sukamara, Windu Subagio mengatakan mengenai warga yang diduga sebagai anggota Gafatar sedang dilakukan penyelilikan dan penggalian informasi untuk memastikan apakah mereka anggota Gafatar atau bukan.
Yang jelas saat ini mereka hanya bekerja sebagai petani atau mencari kehidupan di Sukamara.
Untuk mencari informasi itu maka harus dengan jalur benar, sehingga tidak membuat mereka merasa tidak nyaman atau tergangu dengan penggalian informasi yang dilakukan.
“Untuk melakukan penyelidikan pada warga yang diduga organisasi Gafatar ini harus dengan jalur benar agar mereka tidak merasa terusik atau diganggu,” ucap Windu, Jumat (15/01/2016).
Memiliki Keanehan
Dia mengakui sekelompok orang yang bermungkim di Sukamara itu memiliki keanehan.
Karena berasal dari daerah yang berbeda, karena biasanya jika ada sekelompok orang yang merantau bersama setidaknya tempat asalnya juga sama.
“Warga yang datang itu berasal dari 9 daerah yang berbeda. Anehkan, biasanya jika orang yang pergi berkelompok setidaknya dari daerah tempat asal yang sama,” katanya.
Windu menjelaskan jika warga yang datang itu berasal dari berbagai daerah yang berbeda.
Misalnya dari Cilacap, Boyolali, Karanganyar, Sukoharjo, Tangerang, Jakarta, Brebes, Purbalingga, dan serang.
Jika kehadirannya saat ini hanya ingin mencari kehidupan di Sukamara tidak ada masalah.
Windu berharap kepada warga Sukamara untuk tidak mudah terbujuk dan mau mengikuti oraganisasi yang tidak jelas dan terlarang. (MG-13/B-6)


