MESKI organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Kabupaten Kotawaringin Timur sudah resmi membubarkan diri, namun pentolan organisasi itu masih ada. Aparat dan pemerintah daerah bakal mengambil langkah pembinaan dan menggelar pertemuan agar mereka kembali ke akidah yang benar.
“Kami dengan pemerintah daerah (pemda) sudah mendata keberadaan Gafatar di Sampit, ada sekitar 11 KK,” ungkap Dandim 1015 Sampit, Letkol Kav Enda Mora Harahap, Minggu (24/1/2016).
Keberadaan eks Gafatar ini tersebar dan berbaur dengan masyarakat umumnya. Mereka tidak hidup berkelompok atau mengasingkan diri dari warga, seperti di Kalimantan Barat dan daerah lainnya di Indonesia. Dan rata-rata mata pencaharian mereka adalah bertani dan berdagang.
Dandim memastikan ada 11 kepala keluarga (KK) anggota Gafatar di Kotim ini tidak lagi aktif, karena organisasi itu sudah dibubarkan. Namun untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan aparat TNI/Polri sudah melakukan pengamanan. Apalagi mereka juga merupakan warga Indonesia yang harus dilindungi.
Untuk itu, kata Enda, aparat TNI/Polri bersama pemerintah daerah akan melakukan mediasi dan pertemuan dengan para anggota eks Gafatar di daerah itu, untuk mencari jalan keluar bagaimana mereka ke depannya. Apakah mereka akan dipulangkan ke daerah asalnya atau menetap di Kotim, karena mayoritas diantara mereka merupakan pendatang dan sebagiannya warga asli Kotim.
“Kita akan melakukan pendekatan-pendekatan dengan Pemda,Polres, bagaimana solusi dan jalan keluarnya. Apakah tetap disini untuk dibina atau dipulangkan, sedang kita bicarakan. Kalau berdasarkan surat gubernur yang saya terima, kita lakukan pembinaan, kalau mereka melanggar kita dengan Polres akan memberikan tindakan tegas,” kata Enda Mora Harahap.
(FI/B-7)


