Setelah melalui hari-hari penantian, akhirnya pasangan suami-istri tersebut mendapatkan sebuah tanda akan kehadiran si buah hati.
***********
SUATU sore, sang istri merasa seluruh badannya tidak enak. “Bang! Kenapa pinggangku terasa pegal-pegal dan mual-mual?,” tanya sang istri kepada suaminya.
“Wah, itu pertanda baik, istriku! Itu adalah tanda-tanda Adik hamil,” jawab sang suami dengan wajah berseri-seri.
“Benarkah itu, Bang?,” tanya sang istri yang tidak mengerti hal itu karena baru kali ini ia mengalami masa kehamilan.
“Benar, istriku!” jawab sang suami.
Sejak saat itu, sang istri selalu ingin makan buah-buahan yang kecut dan makanan yang pedas. Melihat keadaan istrinya itu, maka semakin yakinlah sang suami bahwa istrinya benar-benar sedang hamil. “Oh, Tuhan terima kasih!” ucap sang suami.
Seusai mengucapkan syukur, sang suami mengusap-usap perut sang istri. “Istriku! Tidak lama lagi kita akan memiliki anak. Jagalah baik-baik bayi yang ada di dalam perutmu ini!,” ujarnya.
Waktu terus berjalan. Usia kandungan sang istri genap sembilan bulan, pada suatu malam sang istri pun melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Kumbang Banaung.
Alangkah senang dan bahagianya sepasang suami-istri itu karena anak yang mereka idam-idamkan telah lahir. Mereka pun merawat dan membesarkan Kumbang Banaung dengan penuh kasih sayang.Ketika Kumbang Banaung berusia remaja dan sudah mengenal baik dan buruk, mereka memberinya petuah atau nasihat agar ia menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan selalu berlaku santun serta bertutur sopan ke mana pun pergi.
“Wahai anakku dengarlah petuah, kini dirimu lah besar panjang. Umpama burung lah dapat terbang. Umpama kayu sudah berbatang. Umpama ulat lah mengenal daun. Umpama serai sudah berumpun. Banyak amat belum kau dapat. Banyak penganyar belum kau dengar. Banyak petunjuk belum kau sauk.
Banyak kaji belum terisi. Maka sebelum engkau melangkah terimalah petuah dengan dengan amanah supaya tidak tersalah langkah, supaya tidak terlanjur lidah, pakai olehmu adat merantau, di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung, di mana air disauk di sana ranting dipatah, di mana badan berlabuh di sana adat dipatuh. Apalah adat orang menumpang, berkata jangan sebarang-barang, berbuat jangan main belakang, adat istiadat lembaga dituang.
Dalam bergaul tenggang-menenggang,” kata sang ayah. (B-3) Bersambung......
Sumber: Cerita Rakyat Nusantara








