MUARA TEWEH –

BORNEONEWS, Muara Teweh - Kepala Dinas Kesehatan Barito Utara, H Siswandoyo mengungkapkan bahwa sejak tahun 1999 di Indonesia telah terjadi peningkatan jumlah ADHA pada kelompok orang berperilaku resiko tertular HIV yaitu para pekerja seks (PS) dan penggunaan NAFZA suntikan (penasun).

"Program penanggulangan AIDS di Indonesia menuju pada Getting 3 Zeroes, yakni Zero new infection, zero AIDS related death dan zero stigma and discrimination," terangnya pada kegiatan workshop layanan tes dan pengobatan HIV-AIDS bagi tenaga kesehatan di Kabupaten Barito Utara, Rabu 14 September 2022 di aula pertemuan Hotel J&B Muara Teweh.

Ia mengatakan, komitmen Indonesia dengan negara lain untuk melakukan pendekatan fast track 90-90-90 dengan cara mendeteksi orang yang terinfeksi pada 90 persen orang yang diperkirakan terinfeksi, memberikan terafi ARV dini pada 90 persen pada orang yang terinfeksi, serta mampu mencapai keadaan virus tak terdeteksi pada 90 persen orang yang minum ARV.

“Diharapkan pendekatan fast track ini dapat menurunkan angka infeksi baru HIV secara tajam, sesuai dengan capaian pembangunan berkelanjutan atau substainable develovment goal (SDGs),” kata Siswandoyo.

Selain itu juga, kata dia di Provinsi Kalimantan Tengah saat ini bersama dengan Kabupaten/Kota tengah melakukan usaha optimal untuk mencapai target SPM yang telah ditentukan oleh Kementerian Kesehatan RI dengan melakukan skrining orang yang berisiko terkena penyakit HIV dan peingkatan kualitas SDM tenaga kesehatan. 

--page

“Peningkatan kualitas SDM dilakukan dengan berbagai macam metode baik dalam bentuk On Job Training (OJT), bimbingan Teknis (Bimtek) pelatihan maupun Workshop yang dilaksanakan mulai dari 14-16 september 2022,” imbuhnya.

Ditambahkannya, Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara bersama Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng mengadakan kegiatan workshop yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas SDM tenaga kesehatan di Kabupaten Barito Utara agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan program HIV kepada masyarakat.

“Di samping sistem pencatatan dan pelaporan yang akuntabel, berkala dan berkesinambungan merupakan salah satu kunci dalam kesuksesan pencapaian SPM,” pungkasnya. (RAMADHANI/B-5)