TIGA hari berturut-turut warga Kotawaringin Barat dan Lamandau, Kalimantan Tengah, mendapat kunjungan para pejabat. Ada yang bupati, ada pula yang gubernur. Ada Bupati Kudus, Walikota Surabaya, mantan bupati Bantul, bahkan Gubernur Jawa Tengah.
Bupati Kudus Musthofa, datang dengan dalih menengok warga Kudus, Demak, dan pesisir utara Jawa. Demikian pula mantan bupati Bantul Idham Samawi, datang menengok warga Yogyakarta.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, tak mau kalah. Ia datang ke rumah warga di dua desa. Alasan kedatangannya, menengok warga Jawa yang sukses sebagai transmigran di daerah ini. Alasan ini terdengar wajar. Tetapi sesungguhnya jika kita simak, sangat janggal. Alasan ini sepintas masuk akal. Tetapi jika kita renungkan, sejatinya sangat naïf.
Pertama, mereka datang dengan setingan acara arisan atau paguyuban. Tetapi, yang justru dominan adalah atribut partai dan atribut pasangan calon gubernur Kalteng nomor urut 2.
Kedua, argumen menengok orang Jawa, sangat berbau partisan dan sektarian. Pak Ganjar, Pak Idham, Pak Musthofa, dan Bu Risma harus tahu, orang Jawa di Kalimantan sudah lebur dan berbaur dengan kenyatan sosial dan budaya yang ada. Orang Jawa sudah manjing ajur-ajer dengan warga setempat.
Karena itu, sungguh naïf jika para pejabat publik ini jauh-jauh datang ke sini membawa dan mengungkit semangat partisan.
Pak Ganjar, sampeyan boleh berbasa-basi datang mau menengok kemajuan dan kesejahteraan warga Kotawaringin Barat. Tetapi jangan sekali-kali bilang ‘mau menengok orang Jawa’. Itu melukai jiwa dan semangat kebersamaan sebagai bangsa. Itu mencederai tali silaturahmi, tali persaudaraan, solidaritas, toleransi yang dengan susah-payah dibangun selama ini.
Ini semua jangan dirusak hanya karena sampeyan mengemban sebuah kepentingan politik. Warga tahu dan mengerti, sampeyan semua datang untuk memikat warga agar memilih calon sampeyan, nomor urut 2.
Tetapi tidak semudah itu. Warga tahu calon mana yang terbaik untuk daerahnya.
Kalau mau datang jalan-jalan, contohlah Pak Jokowi. Ia blusukan untuk mengetahui isi hati rakyatnya. Ia blusukan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang ada. Ia blusukan untuk mencari dasar/fondasi sebuah kebijakan. Blusukan untuk menyerap aspirasi guna merumuskan solusi.
Maaf pak Bupati dan Pak Gubernur, sampeyan ke sini hanya untuk kepentingan politik kan? Gak usah dibantah. Warga tahu, sampeyan ke sini bukan dalam rangka blusukan. Tetapi, tampaknya lebih tepat disebut kluyuran. Atau, klayapan!


