SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Bulan Safar adalah bulan kedua di dalam sistem kalender Islam atau Hijriah. Di bulan safar sendiri, banyak peringatan acara keagamaan yang sering dilaksanakan umat muslim. 

Salah satunya yakni Arba Mustamir Safar atau hari Rabu terakhir bulan Safar. Tidak sedikit warga yang melaksanakan kegiatan khusus pada hari tersebut. Baik mandi di sungai, mengundang tetangga menyantap kue-kue manis, dan juga membagikan bubur baayak. 

Nah'', wartawan Borneonews.co.id sendiri berkesempatan untuk mencoba bubur baayak, yang dibuat oleh sejumlah warga Jalan Ir H Juanda, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). 

Nama bubur tersebut sendiri terbilang sangat jarang di dengar. Bahkan mungkin banyak warga daerah ini tidak tahu seperti apa bentuknya dan tentu rasanya. 

"Beginilah cara membuatnya, membutuhkan waktu 3 jam dan harus dilakukan dengan penyaringan sambil digoyang-goyangkan," ujar Mama Opiq, yang merupakan warga pembuat bubur tersebut, Rabu 21 September 2022. 

Dirinya menerangkan bahwa ia bersama warga lainnya telah membuat bubur baayak  dalam 4 kawah besar. Menggunakan bahan utama tepung beras sebanyak 21 kilogram. Dan dibagikan dengan masyarakat sekitar serta kolega para pembuat bubur tersebut. 

"Bubur ini kami buat sebagai upaya memupuk rasa saling berbagi untuk bersedekah. Karena sedekah itu tidak harus dengan uang dalam jumlah besar tapi cukup dengan biaya murah, salah satunya berbagi panganan manis pun bisa bersedekah kepada orang lain," kata Mama Opiq. 

Dirinya juga menerangkan kenapa bubur tersebut dinamakan bubur baayak, tidak terlepas dari proses pembuatannya. Yakni melalui tahapan penyaringan atau dengan cara digoyang dalam bahasa Banjar Kalsel disebut ayak. 

--page

Proses pengayakan dilakukan dengan menggunakan saringan atau anyaman daun kelapa. Hasil pengayakan tersebutlah yang akan dijadikan bahan pembuatan bubur tersebut.

Bubur yang diolah menggunakan tepung beras tersebut memiliki ciri khas warna dasar coklat, rasanya manis dari gula merah dan asin gurih dari santan kelapa.

"Bahannya yakni berupa tepung beras, tepung terigu, air kapur sirih, gula merah, santan cair, garam, daun pandan dan air bersih," terang Mama Opiq. 

Dirinya berharap, kegiatan serupa bisa kembali mereka gelar terus-menerus di bulan Safar. Agar tradisi tersebut tidak punah. Karena, apa yang dilakukan mereka itu semata-mata hanya untuk berbagi antar sesama demi mendapatkan keberkahan. (MUHAMMAD HAMIM/B-6)