PALANGKA RAYA –

DIMULAI dengan pandemi covid-19. Pertempuran Russia - Ukraine, hingga teror krisis ekonomi di berbagai negara telah mengancam stabilitas ekonomi Indonesia. 

Beberapa pakar memprediksi penurunan nilai mata uang Indonesia diakibatkan kenaikan sejumlah harga secara serentak di seluruh dunia. 

Meskipun demikian, realisasi investasi di Indonesia pada enam bulan awal 2020 masih menunjukkan angka positif. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan, pada periode tersebut realisasi investasinya mencapai 402,6 triliun, naik 1,8 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

BKPM mencatat kenaik realisasi investasi sepanjang 2020 sebanyak 10,1 persen atau sekitar Rp9 triliun yang mana merupakah tanda keberhasilan dari UU Cipta Kerja seperti semakin mudah untuk berinvestasi di Indonesia, transparansi kelayanan, dan kepercayaan investor terhadap Indonesia masih tetap terjaga. 

Perkembangan realisasi investasi mencapai  Rp826,3 triliun di 2020 atau 101,1 persen dari target Rp817,2 triliun. Yang menarik, angka Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menunjukkan jumlah yang seimbang dengan Penanaman Modal Asing (PMA).

Dilansir dari data BPKM, jumlah PMDN mencapai 50,1 persen atau Rp413,5 triliun, sedangkan PMA 49,9 persen atau Rp412,8 triliun. 

"Ini mungkin dalam sejarah belum pernah terjadi, sangat berimbang. Sedikit saya mengatakan, di era pandemi COVID-19 peran PMDN sangat luar biasa sekali, jadi kita tidak bisa membeda-bedakan antara PMA yang diperioritaskan daripada PMDN. Enggak lagi, karena PMDN cukup luar biasa, mereka sebagai benteng ketahanan terhadap realisasi investasi di era pandemi,” kata Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers virtual, Senin (25/1/2021).

Lanjut pada 2021, tercatat sejak 3 bulan awal angka realisasi investasi pada kuartal I/2021 sebesar Rp219,7 triliun, yang berarti telah bertumbuh sebesar 4,3 persen secara tahunan Investasi dalam negeri tercatat Rp 108triliun, turun 4 persen dari tahun lalu. 

Sementara itu, investasi asing PMA menunjukkan angka 50,8 persen pada kuartal I/2021. Tercatat negara yang paling banyak menanamkan modal di Indonesia tahun ini adalah Sigapura (US$2,6 miliar), disusul Tiongkok (US$1,0 miliar), Korea Selatan (US$900 juta), Hong Kong (US$800 juta), dan Swiss (US$500 juta). 

BKPM optimis akan kenaikan investasi asing di Indonesia, sebab itu mereka melakukan 5 langkah untuk memfasilitasi investor. Diantara lain, meyakinkan PMA Indonesia ramah terhadap investasi, membantu pelayanan perizinan, membantu financial closing, memberikan layanan end to end hingga terealisasinya investasi, dan membantu investor hingga tahap investasi. 

Oleh: Fatimatuz Zahra Erin Gita Sari

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya