Untuk mengatasi gejolak harga pangan jangka panjang, pemerintah akan memangkas hingga 50% mata rantai suplai pangan. Dengan demikian, harga di tingkat petani lebih meningkat dan harga di tingkat konsumen bisa lebih ditekan.


Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengaku akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan dan Perum Bulog untuk pemangkasan mata rantai suplai pangan tersebut. Dengan pemangkasan ini, jalur perjalanan pangan dari petani ke konsumen terpangkas sampai 50%.


“Nanti Bulog yang akan beli, Kementan mendukung, yang biasanya dari delapan titik menjadi empat titik. Jadi, dari petani ke Bulog, Bulog langsung ke pasar, lalu ke konsumen,” papar Amran di Kantor Dirjen Hortikultura, Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Melalui Toko Tani


Dengan begitu, menurut Amran, harga di tingkat petani bisa lebih diangkat, serta harga di tingkat konsumen bisa lebih ditekan. “Itu solusi untuk seluruh komoditas, termasuk daging sapi.”


Selain itu, pemasaran pangan yang telah diserap oleh Bulog dapat melalui Toko Tani yang saat ini berjumlah 200 unit di seluruh daerah. Ditargetkan, dalam tahun ini akan ditambah menjadi 1000 unit.


Amran menegaskan, program Toko Tani yang baru dimulai tahun lalu itu belum dapat dinilai gagal. Ia juga telah menginstruksikan Kepala Badan Ketahanan Pangan untuk lebih mengefektifkan program tersebut.


“Kita lihat ke depan, masak baru tampil langsung gagal. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan,” tandas Amran. (MI/B-1)