SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kepala Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur Umar Kaderi mengatakan, sebagai salah satu langkah Pemkab Kotim dalam memutus rantai penularan HIV/AIDS saat ini disebutkan ada 3 fasilitas kesehatan yang diusulkan sebagai klinik perawatan, pengaduan dan pengobatan (PDP) HIV/AIDS.

Saat ini satu-satunya fasilitas kesehatan yang menjadi rujukan penanganan HIV/AIDS di Sampit dan wilayah terdekat dengan Kotim adalah RSUD Murjani Sampit. 

Adapun 3 fasilitas kesehatan ini salah satunya Rumah Sakit Pratama Parenggean, walaupun lokalisasi di sana sudah ditutup secara resmi tapi dirinya menilai hal itu tidak sepenuhnya menutup akses terjadinya transaksi esek-esek tersebut.

"Kenapa Parenggean karena di sana pernah ada lokalisasi jadi untuk membackup tenaga kesehatan yang ada di sana," kata Umar, Rabu, 28 September 2022.

Dia mengatakan, selama ini pihaknya agak kesulitan untuk menjangkau orang dengann HIV/AIDS (ODHA) yang lost followup dan tinggal jauh dari Kota Sampit.

"Biasanya informasi didapatkan dari rumah sakit memberitahukan bahwa ada ODHA dia pernah datang sekali kemudian beberapa bulan enggak datang kita masukkan ke kelas ini paling tidak lebih dari 3 bulan tidak datang kita lakukan stimulan ke sana," tambahnya.

--page

Fasilitas kesehatan selanjutnya yakni Puskesmas Baamang 2 dan Puskesmas Ketapang 1.Keduanya dipilih berdasarkan syarat-syarat dan ketentuan yang dianggap sudah memadai atau memenuhi syarat sebagai klinik PDP. Sejauh ini ODHA terbanyak juga disebut di wilayah Kecamatan Baamang dan Kecamatan MB Ketapang.

Persyaratan dari mulai SK, dokter, perawat hingga petugas record dan report (RR) dikatakan sudah memenuhi dan dalam tahap diusulkan, saat ini hanya tinggal menunggu persetujuan dari Pemerintah Pusat.

Dia melanjutkan, pemerintah daerah sangat serius dalam menangani masalah ini, terlebih HIV/AIDS ditargetkan three zero pada 2030 yakni tidak ada penularan infeksi baru HIV, tidak ada kematian akibat AIDS dan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada ODHA.

Belum lagi, saat ini juga disebutkan populasi penyumbang HIV/AIDS tidak hanya dari para wanita pekerja seks (WPS) dengan pelanggannya saja, seiring berkembangnya zaman berkembang pula perilaku menyimpang seperti LGBT semakin merebak, yang dikatakannya cenderung menambah deretan orang yang terinfeksi HIV/AIDS. (NOOR ANNISA/B-5)