PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Adanya wacana pemerintah pusat mengkonversi gas LPG 3 kg ke kompor listrik menuai pro dan kontra, sehingga wacana itupun tidak dilanjutkan atau dibatalkan untuk menjaga kestabilan perekonomian masyarakat.

Legislator Kalteng, Achmad Rasyid menyebut jika pemerintah ingin mengkonversi gas LPG 3 kg maka briket batu bara bisa menjadi solusi, karena dinilai ekonomis dan juga tidak membutuhkan daya listrik agar bisa berfungsi.

"Jika konversi gas LPG 3 kg ke kompor listrik yang jadi masalah yaitu bagi masyarakat di wilayah pedesaan apalagi yang belum ada listriknya. Nah, saya rasa yang paling tepat itu lebih baik briket batu bara," ucapnya, Minggu, 2 Oktober 2022.

Ketua Komisi II DPRD Kalteng ini menjelaskan, alasan kenapa briket batu bara lebih tepat sebab Indonesia terutama pulau Kalimantan menjadi salah satu antara wilayah penghasil batu bara terbesar di dunia, maka untuk mendapatkan bahan bakunya tidaklah sulit.

Diungkapkannya, dulu pernah juga terjadi hal serupa ketika pada waktu masyarakat menggunakan minyak tanah, dan hal itu dianggap sangat membebani APBN untuk subsidi minyak tanah, sehingga dikonversi lah minyak tanah ke gas LPG 3 kg.

Sekarang ini, ada lagi wacana untuk mengkonversi gas LPG 3 kg ke kompor listrik namun hal itu dianggap kurang efektif dan membebani terlebih yang memiliki daya listrik rumahan dengan volt yang tergolong kecil dan desa yang belum ada listrik. Oleh sebab itu, energi alternatif lain seperti briket batu bara bisa dijadikan solusi.

--page

"Kita ketahui sumber energi fosil di dunia seperti minyak dan gas bumi semakin tahun semakin menipis, jadi harus ada alternatif lain yang diterapkan. Apalagi briket batu bara ini sudah digunakan sebagian masyarakat di Indonesia, tinggal hanya bagaimana pemerintah menerapkannya saja secara keselurahan," tutupnya. (DONNY D/B-6)