PROGRAM pelebaran jalan yang akan dilaksanakan di sepanjang Jalan Ahmad Yani, mulai dari kawasan Perkantoran DPRD Bartim hingga Simpang Kartika di Tamiang Layang menuai penolakan dari sejumlah warga yang bermukim di sepanjang jalan tersebut.
Kepala Bagian Pemerintahan Umum Setda Bartim Andrunganyan mengungkapkan, respon masyarakat yang tanahnya terkena program pelebaran jalan tersebut cukup beragam. Beberapa di antaranya memberikan apresiasi positif dan dukungan penuh, sementara lainnya menolak dengan sejumlah alasan.
“Mereka yang menolak program itu memberikan alasan bahwa tanah pekarangan mereka sempit. Kendati demikian, kami tetap melakukan pendekatan dan komunikasi persuasif untuk memberikan pemahaman pentingnya pelebaran untuk memajukan daerah. Mudah-mudahan tahun ini kesepahaman bersama berhasil dirampungkan,” kata Andrunganyan.
Dirinya menjelaskan, dalam program ini pihaknya bergerak untuk mendukung dan menjembatani proses pendataan sekaligus pembebasan tanah, bangunan dan pekarangan masyarakat yang terkena program fisik tersebut.
Mengingat belum seluruh warga mendukung langkah pembangunan tersebut, pihaknya akan melakukan sosialisasi lapangan ke tengah masyarakat. Komunikasi aktif bakal ditekankan demi tumbuhnya pengetahuan bersama akan pentingnya program itu sebagai pembentukan wajah ibukota kabupaten.
“Kami belum menentukan harga pembebasan untuk tiap meter tanah warga. Namun dari sisi anggaran, pos untuk hal tersebut sudah disiapkan,” timpal Andrunganyan tanpa menyebutkan besaran anggarannya.
Dirinya menambahkan, pihaknya berharap masyarakat bersikap koperatif mendukung upaya tersebut, sehingga nantinya pengerjaannya mampu dilaksanakan dengan baik sesuai harapan bersama.
“Apabila memang tidak ada kesepahaman, semua akan dikembalikan kepada mekanisme dan aturan yang menaunginya,” tandasnya. (Tbs/B-5)


