Laporan: YUDHA
VIRUS Zika dipastikan telah ditemukan di Indonesia pada 2015. Penyebaran virus itu melalui nyamuk Aedes Aegypti dan gejalanya mirip demam berdarah, yang membuat keberadaannya tidak dikenali secara spesifik.
Virus itu bisa meluas, terutama di daerah-daerah endemis demam berdarah. Penelitian dari Eijkman Institute for Molecular Biology Minggu (31/1/2016), telah menemukan satu kasus positif terinfeksi virus Zika di Provinsi Jambi.
Menurut Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatah (Dinkes) Kobar Arif Susanto, hingga kini pihaknya masih belum mendapatkan petunjuk tata laksana penanganan virus tersebut dari Kementerian Kesehatan. “Sepengetahuan saya saat ini Kemenkes masih melakukan pengawasan dan penyelidikan adanya penyakit tersebut. Sebab itulah tata laksana penanganan untuk mengetahui keberadaan virus tersebut dalam tubuh seseorang,” jelasnya.
Ia melanjutkan, virus Zika bisa mengganggu perkembangan otak janin yang dikandung ibu hamil. Kemudian juga bisa menyebabkan menyusutnya volume cairan di otak. Untuk mengantisipasi penularan virus ini bisa dilakukan dengan cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Cara paling efektif, ampuh dan direkomendasikan untuk mencegah perkembangan jentik nyamuk adalah PSN. Karena fogging sebenarnya tidak menyelesaikan masalah. Karena asap yang keluar dari alat fogging itu adalah insektisida yang bisa meracuni manusia,” jelasnya. (YD/B-7)


