SUARA pentingnya kaderisasi yang lebih baik di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) makin menguat menjelang Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Kalimantan Tengah (Kalteng), yang akan digelar di Asrama Haji Al Mabrur, Palangka Raya, Kamis (4/2/2016).

Herman Siswanto, Sekretaris Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kalteng, mengatakan selama ini NU Kalteng tidak memiliki skema kaderisasi yang terstruktur dan sistematis.
“Pimpinan NU Kalteng harus bisa jalankan fungsinya. Harus mikir regenerasi kepemimpinan ke depan bagaimana. Janganlah yang muncul yang itu-itu saja. Ini demi kesinambungan kader ke depan agar semakin tertata dengan baik,” ucapnya kepada Borneonews, Senin (1/2/2016).

Herman mengingatkan, jika yang muncul di pentas publik orang ‘yang itu-itu saja’, berarti memang ada yang tidak beres dalam kaderisasi NU. Menurutnya, selama ini sudah sering terjadi, kader potensial malah terpinggirkan, sehingga mempertegas kesan NU dimonopoli oleh segelintir orang.

Herman berharap, calon pimpinan PWNU Kalteng ke depan harus berkomitmen melakukan kaderisasi, dan menciptakan kader yang militan.

Tuntutan Fatayat
Persoalan perbaikan pola kaderisasi juga menjadi tuntutan kader perempuan NU yang tergabung dalam Fatayat NU. Menurutnya, pemimpin NU Kalteng juga harus memikirkan pembangunan jaringan yang baik dengan semua stakeholder atau pemangku kepentingan di Bumi Tambun Bungai ini.

“Yang penting adalah bagaimana bisa membangun link strategis dan membina jaringan keorganisasian, dengan pemangku kepentingan yang ada. Baik link ke atas (pemerintah pusat), ke bawah (struktur NU di bawahnya) dan ke samping, baik pemerintah daerah maupun organiasasi lainnya,” pinta Saidah Suryani, Ketua PW Fatayat NU Kalteng yang baru terpilih akhir bulan lalu. (RZ/B-10)