Laporan: RAFIUDIN (Kotawaringin Timur)
Tahun 2016 dibuka dengan kematian tiga warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, akibat mengidap HIV/AIDS, virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Mereka meninggal dalam rentang Januari lalu, menyusul rangkaian kematian dengan penyebab sama yang menimpa sembilan warga Kotim pada 2015.
“Pada Januari tahun ini, tiga penderita HIV/AIDS yang meninggal dunia terdiri dari satu balita dan dua orang perempuan muda,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan, Faisal Novendra Cahyanto, Senin (1/2/2016).
Seperti biasa, identitas dan alamat jelas korban HIV/AIDS itu ditutup rapat-rapat. Maklum, "penyakit" tersebut masih dianggap aib besar sebab pemicunya sering dikaitkan dengan perilaku seks bebas.
Sekretaris Komisi Perlindungan AIDS Daerah (KPAD) Kotim, Asikin Arpan, meminta masyarakat menjauhi perilaku seks bebas yang akan berdampak buruk bagi kesehatan. Terutama untuk menghindari serangan HIV/AIDS yang bisa menular pada pasangan resmi di rumah, termasuk virus itu bisa membunuh anak yang dilahirkannya.
Terlambat ditangani
Faisal menyebutkan, meninggalnya penderita penyakit yang belum ditemukan obatnya itu karena penderita terlambat diketahui mengidap HIV/AIDS. Mereka juga terlambat melakukan pengobatan.
“Penderita HIV/AIDS kurang kesadaran mau memeriksa diri ke petugas kesehatan. Bahkan, terkadang mereka baru mau memeriksi diri dalam fase yang sulit disembuhkan,” tutur Faisal.
Data Dinas Kesehatan Kotim, pada 2015 ada sembilan warga meninggal karena terinfeksi HIV/AIDS. Kematian terjadi mulai dari Januari (1 orang), April (1), Mei (2), Juni (2), Juli (1), dan Oktober (1).
Sepanjang tahun lalu Dinkes Kotim juga melakukan tes HIV/AID terhadap 985 orang melalui layanan Voluntary Clinik Test (VCT). Sebanyak 40 orang di antaranya terdeteksi sebagai penderita baru HIV.
Jumlah kasus AIDS sendiri hingga saat ini mencapai 13 orang. Sedangkana jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) sebanyak 304 orang.
Menurut Faisal, meminum obat ARV secara rutin telah terbukti membantu menahan laju pertumbuhan virus penderita HIV/AIDS. (B-1)
Tahun 2016 dibuka dengan kematian tiga warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, akibat mengidap HIV/AIDS, virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Mereka meninggal dalam rentang Januari lalu, menyusul rangkaian kematian dengan penyebab sama yang menimpa sembilan warga Kotim pada 2015.
“Pada Januari tahun ini, tiga penderita HIV/AIDS yang meninggal dunia terdiri dari satu balita dan dua orang perempuan muda,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan, Faisal Novendra Cahyanto, Senin (1/2/2016).
Seperti biasa, identitas dan alamat jelas korban HIV/AIDS itu ditutup rapat-rapat. Maklum, "penyakit" tersebut masih dianggap aib besar sebab pemicunya sering dikaitkan dengan perilaku seks bebas.
Sekretaris Komisi Perlindungan AIDS Daerah (KPAD) Kotim, Asikin Arpan, meminta masyarakat menjauhi perilaku seks bebas yang akan berdampak buruk bagi kesehatan. Terutama untuk menghindari serangan HIV/AIDS yang bisa menular pada pasangan resmi di rumah, termasuk virus itu bisa membunuh anak yang dilahirkannya.
Terlambat ditangani
Faisal menyebutkan, meninggalnya penderita penyakit yang belum ditemukan obatnya itu karena penderita terlambat diketahui mengidap HIV/AIDS. Mereka juga terlambat melakukan pengobatan.
“Penderita HIV/AIDS kurang kesadaran mau memeriksa diri ke petugas kesehatan. Bahkan, terkadang mereka baru mau memeriksi diri dalam fase yang sulit disembuhkan,” tutur Faisal.
Data Dinas Kesehatan Kotim, pada 2015 ada sembilan warga meninggal karena terinfeksi HIV/AIDS. Kematian terjadi mulai dari Januari (1 orang), April (1), Mei (2), Juni (2), Juli (1), dan Oktober (1).
Sepanjang tahun lalu Dinkes Kotim juga melakukan tes HIV/AID terhadap 985 orang melalui layanan Voluntary Clinik Test (VCT). Sebanyak 40 orang di antaranya terdeteksi sebagai penderita baru HIV.
Jumlah kasus AIDS sendiri hingga saat ini mencapai 13 orang. Sedangkana jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) sebanyak 304 orang.
Menurut Faisal, meminum obat ARV secara rutin telah terbukti membantu menahan laju pertumbuhan virus penderita HIV/AIDS. (B-1)


