PALANGKA RAYA –

RANTAI distribusi berperan penting dalam perekonomian karena melibatkan banyak pihak untuk menggerakkan aktivitas ekonomi. Pemenuhan bahan pokok tidak sepenuhnya bisa mengandalkan kemampuannya sendiri, tapi membutuhkan supply dari wilayah lain.

Kerja sama antardaerah sangat berpengaruh dalam pola perdagangan. Semakin panjang rantai distribusi maka semakin mahal pula bahan pokok tersebut sampai di tangan masyarakat sebagai konsumen akhir.

Perubahan harga pada bahan pokok seperti beras, daging ayam ras, bawang merah, dan cabai merah berpengaruh pada angka inflasi. Apalagi bahan pokok tersebut mempunyai bobot yang cukup besar. Oleh sebab itu perlu bagi pemerintah daerah untuk memperhatikan kestabilan harga yang bisa dikontrol dari supply dan rantai perdagangannya.

Nilai yang bisa merepresentasikan kondisi tersebut adalah Margin Perdagangan dan Pengangkutan (MPP). MPP total merupakan kompensasi pedagang sebagai penyalur barang atau selisih nilai penjualan dengan nilai pembelian. Angka ini didapatkan dari Survei Pola Distribusi yang dilakukan oleh BPS pada seluruh provinsi tahun 2022 dengan kondisi data tahun 2021.

Selama tahun 2021, Kalimantan Tengah melakukan pembelian beras dari DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Aktivitas penjualan ke luar provinsi ditujukan ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

--page

Pola perdagangan beras dari produsen yang dijual melalui pedagang grosir terlebih dahulu sebelum ke pedagang eceran menghasilkan MPP total 26,79 persen saat sampai ke konsumen akhir.

Sementara itu, pola terpanjang pembelian beras dari luar provinsi melalui distributor terlebih dahulu, yang dijual ke pedagang grosir, kemudian pedagang eceran hingga sampai ke konsumen akhir menimbulkan MPP total sebanyak 37,35 persen.

Sementara itu, Kalimantan Tengah selama 2021 melakukan pembelian daging ayam ras dari Kalimantan Selatan. Sedangkan penjualan keluar provinsi bertujuan ke Kalimantan Selatan juga.

Pola perdagangan daging ayam ras memiliki 2 rantai, dari produsen/peternak yang dijual ke pedagang eceran menghasilkan MPP total 44,10 persen saat sampai di konsumen akhir. Sedangkan pola terpanjang berawal dari produsen/peternak yang harus melalui pedagang grosir, kemudian pedagang eceran, hingga sampai pada konsumen akhir dengan menghasilkan MPP total 70,24 persen.

Untuk komoditas bawang merah, Kalimantan Tengah melakukan pembelian dari 4 provinsi, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Bawang merah yang dibeli dari luar provinsi menghasilkan MPP total 66,39 persen untuk sampai ke konsumen akhir setelah melewati pedagang grosir dan pedagang eceran.

Sementara itu, pola terpanjang jika melalui distributor terlebih dahulu menghasilkan MPP total 144, 05 persen untuk sampai ke konsumen akhir setelah melalui pedagang grosir dan eceran terlebih dahulu. Angka ini cukup besar jika dibandingkan pola terpanjang perdagangan bawang merah Indonesia yang sebesar 128,11 persen.

--page

Sementara itu, pembelian cabai merah Kalimantan Tengah selama tahun 2021 berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan. Sedangkan penjualan ditujukan hanya ke Kalimantan Barat.

Pola utama perdagangan cabai merah di Kalimantan Tengah berawal dari produsen/petani yang menjual ke pedagang pengepul terlebih dulu, kemudian ke pedagang eceran, dan ketika mencapai konsumen akhir menghasilkan MPP total 37,36 persen.

Sedangkan pembelian dari luar provinsi memiliki pola terpanjang dari pedagang grosir, pedagang pengepul, pedagang eceran, hingga konsumen akhir yang menghasilkan MPP total sebanyak 67,65 persen.

 Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah setempat, terutama komoditas bahan pokok bawang merah. Dalam uraian di atas, MPP total bawang merah di Kalimantan Tengah jauh di atas pola terpanjang MPP nasional Indonesia.

Artinya, margin perdagangan dan pengangkutan bawang merah di Kalimantan Tengah selama 2021 lebih tinggi dari kondisi nasional Indonesia. Pemerintah daerah perlu mengambil kebijakan dengan memperpendek pola distribusinya supaya margin yang tinggi tidak terulang lagi. Margin yang tinggi tentu berdampak pada semakin mahalnya harga bawang merah sampai di tangan masyarakat sebagai konsumen akhir.

Oleh: Agustina Elisa Dyah Purwandari, SST

Statistisi Ahli Pertama BPS Kotawaringin Barat