BORNEONEWS, Pulang Pisau - Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau menghadiri Rapat Komite Koordinasi ACIAR Project FST 2016/144 yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
Kegiatan yang dilaksanakan di ruang Rimbawan 3 Gedung Manggala Wanabhakti, Bogor itu, dihadiri Bupati Pulang Pisau Pudjitustaty Narang didamping beberapa kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diantaranya kepala Dinas PUPR Pulpis dan pihak Bappedalitbang Pulpis.
"Kabupaten Pulang Pisau, memiliki luasan lahan dengan struktur tanah bergambut. Luasan tanah bergambut tersebut disebutkan tidak sedikit, yakni mencapai angka 60 persen, tepatnya 59,40 persen dari luas wilayah 8.997 kilometer," ucap Bupati Pulpis dalam paparannya.
Ia menjelaskan kehadiran pihaknya dalam kegiatan itu dalam rangka kerjasama mengurangi kebakaran lahan bergambut. Meski begitu masih menjadi jalan alternatif untuk mendapatkan sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah gambut, yang diantaranya berada di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau.
Disebutkan Taty sapaan akrab Bupati Pulpis itu, berdasarkan hasil kajian BNPB pada tahun 2019, terdapat sekitar 161.400,69 ha wilayah Kabupaten Pulang Pisau beresiko tinggi terhadap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
"Wilayah tersebut, berada di Kecamatan Jabiren Raya dan Kahayan Kuala sehingga dengan adanya proyek kerjasama ini perlu diapresiasi sebagai upaya dukungan eksternal untuk membantu daerah, khususnya Kabupaten Pulang Pisau guna meminimalkan potensi emisi gas rumah kaca akibat gambut," katanya.
Pasca selesainya kajian proyek penelitian ini yang dimulai tahun 2018 lalu, lanjut Taty, tentu memberi dampak positif terutama membantu program berkelanjutan dalam peningkatan lingkungan hidup berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya bidang ekonomi dikawasan lahan gambut.
"Program hilirisasi diperlukan untuk membantu mata pencaharian yang inklusif bagi masyarakat. Termasuk dalam pemasaran produk lokal yang diharapkan dapat diimplementasikan dalam keberlanjutan proyek ini," harapnya.
Sementara perlu diketahui, ada beberapa poin penting yang berkelanjutan pada kerjasama proyek tersebut sehingga didapatkan beberapa rekomendasi diantaranya, meningkatkan kelembagaan, identifikasi mata pencaharian masyarakat, pengelolaan Karhutla dilahan gambut, serta mengukur dampak praktek restorasi lahan gambut.
--page
"Kita berharap dengan kegiatan ini dapat meningkatkan aspek kelembagaan, sosisi dan kebijakan dari inisiatif restorasi gambut dan kebijakan pencegahan kebekaran lehan gembut. Kami akan mendukung manajemen yang efektif dan penyebaran pengetahuan untik restorasi lehan gambut dan pencegahan kebakaran. Karena Kami hadir dalam rangka penyampaian cepaian target, tentangan dan keberlanjutan proyek untuk memperoleh arahan penelitian lebih lanjut," tutupnya. (ang)









