Kementerian Perdagangan (Kemendag) belum melakukan upaya pengendalian terhadap sejumlah komoditas pangan yang harganya merangkak naik.
Bahkan, Kemendag menganggap kenaikan harga pangan saat ini masih wajar dan menjadi bagian dari dinamika pasar, karena belum mencapai angka kritis 10%.
“Kenaikan harga itu ada ukurannya. Saat ini rata-rata masih di kisaran 2,5%,” ungkap Kepala Sub Direktorat Bahan Pokok Agro Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Sri Hardjono, di Jakarta, Kamis (4/2/2016).
Jika ke depan kenaikan harga mencapai 10% alias masa kritis, barulah pemerintah melakukan sejumlah tindakan, seperti menetapkan harga khusus dan menambah pasokan di hari-hari besar bulan-bulan tertentu, seperti waktu Lebaran, Natal, dan tahun baru. ‘’Pemerintah juga akan melakukan subsidi atau operasi pasar,” kata Sri.
Kemendag, menurut dia, memiliki kriteria pengukuran gejolak harga sehingga bisa memantau pergerakan kenaikannya. Misalnya, karena gangguan distribusi dan kekurangan pasokan. ‘’Saat ini harga barang pokok dan penting masih di areal kuning alias aman. Kalau hijau, artinya terjadi penurunan harga,” katanya.
Direktur Bincang-Bincang Agribisnis (BBA) sekaligus Ketua Pelaksana Harian Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI), Yeka Hendra Fatika, tidak sependapat. Ia justeu meminta pemerintah melakukan tindakan dini sebelum masa kritis kenaikan harga terjadi.
“Kenaikan harga saat ini sudah agak mengkhawatirkan, harusnya pemerintah berbuat sesuatu,” kata Yeka.
Intervensi keliru
Kenaikan harga pangan, lanjut dia, disebabkan pemerintah salah meletakkan resep instrumen pengendalian kenaikan harga. Gejalanya telah terlihat sejak enam bulan lalu, yaitu saat Indonesia menghadapi anomali perubahan iklim berupa El Nino sehingga mengganggu produksi pangan.
‘’Seharusnya, intervensi pemerintah dilakukan sejak dini untuk mengendalikan harga. Terlebih akan ada serangan La Nina pasca El Nino yang diprediksi akan merepotkan. Tapi, yang dilakukan pemerintah malah intervensi di berbagai tata niaga komoditas dan membuat ketidakpastian usaha,” tutur Yeka.
Inflasi 2016, sebut dia, sudah tampak disumbang dari beras dan daging sebanyak (0,51%). Begitu memasuki hari raya dan musim hujan, harga pangan pokok diprediksi semakin mengganas. Yeka meminta pemerintah secepatnya membenahi data pangan, mendeteksi berapa banyak yang kurang secara tepat, lantas melakukan impor.
‘’Langkah pengendalain harga oleh pemerintah jangan mendadak. Pemerintah harusnya mulai bersiap mengantisipasi apa yang perelu dilakukan untuk menurunkan harga sejak jauh-jauh hari,” tandas Yeka.
(B-1)








