WARGA Desa Bakambat, Sei Nunuk, Kecamatan Bataguh, Kapuas dilatih membuat kerajinan dari bahan rotan selama tiga hari sejak 1-3 Februari 2016.
Pelatihan ini cukup menarik karena hanya diikuti 40 orang dengan sistim pembinaan pemanfaatan limbah rotan dalam bentuk cor (hati rotan untuk menganyam perlengkapan rumah tangga.
“Limbah rotansangat banyak yang tidak terpakai lalu dibuang oleh perusahaan yang mengekspor bahan mentah ke luar Kalteng, sehingga sisa potong rotan dimanfaatkan untuk kerajinan anyaman,” kata Ferdinan Junarko, Kabid Perindustrian Disperindagkop dan UMKM Kapuas, Kamis (4/2/2016).
Dia menjelaskan bahan hati rotan bisa dianyam sebagai penutup makanan di atas meja, tempat keranjang untuk payung, minuman mineral, dan keranjang untuk mengangkut pasir.
“Antusias warga sangat baik, karena rata-rata mereka bekerja di perusahaan rotan, sehingga mendapat bahan baku tidak terlalu sulit. Hanya saja mereka tidak bisa dilatih berkelompok, sehingga harus diajari secara per orangan,” ungkapnya.
Dia menambahkan, rotan merupakan hasil alam dan kerajinan ini sudah menjadi warisan budaya yang harus dikembang sehingga tidak menjadi punah oleh perkembangan jaman.
“Kita terus memberikan pelatihan bagi mereka untuk menjadi pengrajin profesional, cekatan, dan trampil untuk bisa menerima perubahan yang dulunya pekerjaan sampingan, tapi kini menjadi perkerjaan utama,” tuturnya.
Saat ini anyaman rotan asal Kapuas telah menembus pasar Asia seperti Jepang dengan anyaman tikar, sedangkan bentuk keranjang masih laku di dalam negeri.
Siti, seorang peserta pelatihan mengaku senang diajarin cara membuat anyaman rotan.
“Kalau di sini potongan rotan banyak dan kadang dibakar oleh perusahaan, karena susah terpakai lagi, karena ukuran rotan yang dikirim ke luar dalam bentuk bahan mentah panjang sekitar 25 meter,” ucapnya. (B-6)


