KEJADIAN luar bisa (KLB) demam ber­darah dengue (DBD) yang terjadi ditiga tiga kecamatan saat ini menjadi perhatian serius Pemkab Kapuas.


Sebab pertumbuhan nya­muk mulai merambah ke ka­wasan pinggiran dengan in­tensitas perkembangan nya­muk pasca perubahan mu­sim hujan ke kemarau.


Untuk Januari 2016 ini su­dah terjadi 123 kasus yang meng­akibatkan korban meni­ng­gal.


“Rinciannya di Kecamatan Kapuas Barat ada 17 kasus, Kecamatan Selat 40 kasus, dan Tamban Catur 22 kasus, se­dangkan yang meninggal dua orang,” kata Apendi, Se­kertaris Dinas Kesehatan Ka­puas, Jumat (5/2).


Untuk mengantipasi terjadi­nya wabah DBD seharusnya dilakukan 4M plus. Yakni mengubur, menguras, menu­tup­, dan memantau.


Cara ini menurutnya langkah ampuh untuk memberan­tas jentik nyamuk.


“Kalau mengandalkan foging tentu tidak berpeng­aruh­ atas perkembangan nyamuk. Kalau foging tentu nya­muk akan pergi, tapi ti­dak­ pada telur yang ditingali. Itu pun akan menetas kalau su­dah 6 bulan. Inilah yang sa­ngat berbahaya,” ujarnya.


Dia menjelaskan satu nya­muk aides aigepty meninggal­kan terlurnya sekitarnya 300 bu­tir dan akan berkembang­ biak pada genangan air pada ba­rang bekas.


Apalagi pasca pergantian mu­sim hujan ke kemarau, se­hinga genangan air pada pe­lepah daun pisang terma­suk salah satu tempat pengemba­ngan nyamuk.


Dia berharap agar masyarakat melaksanakan Gerakan Ber­sama Pemberantasan Sa­rang Nyamuk (GBPSN).


Dima­na cara ini sangat efek­tif untuk mencegah perkem­ba­ngan nyamuk.


Selain itu pola hidup masya­rakat sangat berpengaruh de­ngan tidak membuang sam­pah sembarangan. Misalnya­ di Kecamatan Basarang seri­ng terjadi kasus DBD sampai ada yang meninggal, tapi un­tungnya sekarang terjadi pe­nurunan kasus.


“Di Kapuas sendiri pada 2015 juga terjadi KLB dengan 246 kasus dan 4 orang meni­ng­gal,” sebutnya. (B-6)