DINAS Kesehatan Kabupaten Su­kamara menyebar 100 orang Juru Pemantau Jentik (Ju­mantik) untuk menang­gu­la­­ngi wabah demam berdarah dengue (DBD). Jumantik di­sebar ke seluruh desa yang ada di lima kecamatan.


Kepala Dinas Kesehatan Su­kamara Junaidin Tarigan me­ngatakan, tim Jumatik yang ter­­diri dari 100 orang tersebut sudah diberi pelatihan. La­lu setiap desa ditugaskan ti­ga jumantik.


“Jumantik masih aktif hingg­a sekarang,” kata Junai­din Tarigan saat ditemui Borneonews di ruang kerjanya, Senin (8/2/2015).


Tarigan menyebutkan, tuju­an dibentuknya tim Jumantik ia­lah untuk membantu petugas kesehatan dan masyarakat memantau dan mem­bas­mi jentik nyamuk. Sa­lah satunya dengan memba­gikan bu­buk abate kepada masya­ra­kat.


Tarigan melanjutkan, program pemberian bubuk abate saat ini sudah tidak langsung di­bagikan ke masyarakat se­perti tahun-tahun sebelum­nya. Namun, telah di­serahkan ke Dinas Kesehatan un­tuk diberdayakan.


“Untuk program abate tidak langsung ada seperti du­lu. Sekarang program aba­te sudah dipegang pihak pus­kes­mas,” ucap Tarigan.


Menurut dia, pelimpahan ke­wenangan penyaluran bu­buk abate ke puskemas ber­tujuan agar program ter­se­but berjalan lebih efektif da­ri sebelumnnya.


Selain itu, bila ada masya­rakat yang datang berobat dan ter­indikasi menderita DBD, di samping mendapat perawatan, mereka juga akan diberi bubuk abate. Sehingga warga atau pasien ter­sebut dapat membunuh jen­tik nyamuk yang ada di tem­pat tinggalnya.


Seperti diberitakan sebe­lum­nya, jumlah penderita DBD di Sukamara selama Ja­nuari 2016 tercatat seba­nyak 11 orang. Jumlah itu me­ningkat lebih dari 100% bi­la dibandingkan dengan De­sember 2015 yang hanya em­pat orang.


“Hingga saat ini sudah ada 11 kasus (DBD), tiga kasus di Mun­tai, dua kasus di Permata Ke­cubung, dua kasus di Kelu­rah­an Padang, dua kasus di Ke­lurahan Mendawai, dan dua kasus demam dengue di PT Sungai Rangit,” kata Ju­naidin.


Ia berjanji, bila kasus DBD te­rus meningkat, pihaknya akan melakukan fogging atau pe­ngasapan. (MG13/B-3)