BALAI Adat Kaharingan di Desa Bundar, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan kondisinya rusak parah.
Kerusakan mulai dari atap plafon, dinding, Balai pisame, balai hakei, rumahan kecil untuk umat muslim, dan lantainya mulai berlubang.
“Kerusakan sarana ritual umat Kaharingan ini lantaran telah dimakan usia. Dengan kondisi itu dibutuhkan perehaban mendesak,” kata Penghulu Adat Bundar Darlen M Linda kepada Borneonews, Senin (8/2/2016).
Darlen mengungkapkan balai adat ini merupakan persebaran Balai Adat Kaharingan dari Paju Epat Barito Timur.
Balai adat ini awalnya dibangun pada 1962. Balai adat ini juga digunakan beberapa desa di Kecamatan Dusun Utara untuk mengadakan ritual lainnya, seperti dari Desa Talekoi, Hingan, Maruga, Danau Bamore, Tamparak, Majunre, Ulu Tampang, dan Panarukan.
“Sebenarnya balai ini telah direnovasi belasan tahun lalu, namun sejak itu tidak pernah ada perbaikan lagi. Entah mengapa kita kurang jelas penyebabnya padahal kami sudah beberapa kali mengusulkan perehaban namun sampai sekarang masih belum ada tanggapan,” bebernya.
Ia menuturkan beberapa waktu yang lalu dia mengambil inisiatif membentuk panitia pencari dana untuk perehaban. Dengan menggelar berbagai ritual.
Namun ironisnya kegiatan berakhir, dana yang diperoleh berakhir pula.
Sehingga rencana itu hanya tingga rencana dan tidak berkesampaian hingga kini.
“Sangat disayangkan dana yang didapatkan berkisar antara Rp9 juta-Rp10 juta hilang entah ke mana, sampai pembubaran kepanitiaan pencari dana itu dananya malah tidak ada,” sesalnya.
Sementara itu, Damang Dusun Utara Sensus prihatin melihat kondisi balai adat kaharingan sekarang ini.
“Saya merasa sedih melihat sepertinya tidak ada perhatian pihak yang berkewenangan terhadap nilai-nilai budaya ini,” ucapnya.
Dia berharap tahun ini pemerintah daerah membantu untuk mengadakan perehabannya, sehingga sesuai harapan masyarakat Kaharingan, khususnya warga Desa Bundar dan sekitarnya bisa menjadi kenyataan. (B-6)


