KONDISI Jembatan Mambulau di Keca­mat­an Kapuas Hilir yang dibangun di atas muara Sungai Kapuas saat ini sangat memprihatinkan. Kontruksi jembatan pun melengkung.


Rawan ambruk. Salah sa­tu tiang penyangga jembat­an melengkung akibat di­han­tam kapal LCT yang masuk ke dalam sungai dengan me­ng­angkut material.


“Saya sempat kaget saat men­dengar kabar posisi jembatan melengkung dan se­bagian tiang atas jembat­an­ dari kayu ulin ada yang keropos,” tutur Teras, Ka­bid­ Binamarga Dinas PU Kapu­as, Selasa (9/2/2016).


Jembatan ini merupakan ikon bagi warga Mandomai dan Pulau Mambulau.


“Model jembatan seperti ini hanya ada tiga. Yakni yang dibangun oleh STM Man­domai, sehinga bentuk pe­ninggalan yang harus dijaga dan dipelihara oleh kita,” ungkapnya.


Teras menceritakan jembat­an ini dibangun pada 1976 dan orang yang pertama meng­gagas jembatan gantu­ng­ dengan fisik balok ulin ini adalah Hendswik, warga Swiss.


Namun para pembuatnya adalah siswa STM Mandomai­. Dengan bentuk yang unik ini, dia tidak meubah bentuk.


“Coba kita bayangkan saat itu mereka membuat jembat­an gantung tanpa mengguna­kan crane dan tanpa menggu­na­kan kapal tongkang,” tu­tur­nya.


Dia melanjutkan sebenar­nya kalau jembatan beton rangka baja di Km 1 Anjir Ka­puas rampung, sehingga kendaraan berat dan ringan bisa melintas di sana, tanpa harus menggunakan jembat­an Pulau Mambulau.


Nantinya jembatan gan­tung­ ini akan tetap dipertahan­kan.


Abdul Majid, seorang war­ga­ mengharapkan Pemkab Kapuas segera merenovasi jembatan gantung.
Jangan sampai jembatan patah. Dia mengatakan jem­bat­an ini sudah tiga kali direhab oleh pemkab dan terakhir pada 2012. (B-6)