PANGKALAN BUN –

PANGAN merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Yang mana ketahanan pangan merupakan suatu kondisi di mana, terpenuhinya pangan bagi masyarakat hingga pada tingkat individu (Nugroho&Mutisari,13/11/22).

Indonesia adalah negara yang kaya akan hasil pangannya yang melimpah ruah di berbagai daerah khususnya Kalimantan dengan lahan rawa lebaknya yang kaya manfaat untuk lahan pertanian namun belum maksimal pemanfaatannya.

Di lahan rawa inilah terdapat satu jenis tumbuhan yang kaya akan manfaat yaitu Talipuk atau Teratai. Talipuk tumbuh di wilayah tropis Asia timur Iran, terutama di India dan Asia Tenggara serta di Australia yang akan tumbuh dalam kondisi cerah. Sebagai salah satu tanaman air tahunan, talipuk tumbuh subur di kolam dangkal, laguna, dan rawa-rawa.

Di lahan rawa lebak talipuk atau teratai merupakan tumbuhan yang dapat tumbuh dan  berkembang biak dengan baik tanpa campur tangan manusia. Talipuk banyak ditemukan di pulau kalimantan sekitar perairan rawa khususnya Kalimantan Selatan untuk wilayah Hulu Sungai Utara, daerah Danau Panggang, Danau Bangkau, Polder Alabio dan sekitarnya.

Talipuk merupakan tumbuhan air yang hidup pada suhu 20oC-30oC. Batangnya  yang tumbuh tegak di dalam air dengan daun bundar lonjong dan bergerigi pada tepinya, buah yang masak di dalam air serta mengapung di permukaan air. Tumbuhan ini dapat berbunga beberapa kali dalam setahun di permukaan air dengan biji berwarna coklat kehitaman dan tersimpan dalam daging buahnya. Untuk biji yang tua memiliki kulit ari yang keras dan bila kering dapat diolah menjadi tepung.

--page

Tepung biji talipuk memiliki kandungan gizi yang banyak dengan komposisi 92.35% karbohidrat, 3,106% pati, 2,49% protein, 0,11% lemak, 0,49% abu, dan 4,56% air. Selain itu, biji talipuk juga mengandung asam amino yang lengkap seperti Aspartat, Gultamat, Arginina dll serta mengandung asam lemak seperti Asam Miristat, Asam Stearat, Asam Oleat dan Asam Linoleat.

Secara turun-temurun tepung dari biji talipuk dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk diolah menjadi berbagai macam kue tradisional seperti: kue cincin, bipang talipuk, dodol, ulatih talipuk, pais, pipudak, kue bacecer dll. Di Filipina dan India tepungnya dimanfaatkan untuk pembuatan roti, sedangkan di China diolah menjadi bubur. Dengan demikian talipuk dapat dikatakan sebagai sebuah alternatif dalam komoditi pangan di lahan rawa.

Manfaat lain dari talipuk adalah bunga dan tangkainya. Ibu-ibu rumah tangga biasanya memanfaatkan kedua bagian tersebut sebagai olahan gangan atau sup yang dicampur dengan bahan lain seperti ubi, labu, kacang panjang, santan, kunyit, ikan laut kering dll.

Selain itu, daun dan akar bunga talipuk dipercaya dapat mengatasi berbagai macam kondisi pendarahan seperti: muntah darah, mimisan, batuk darah, kencing berdarah, atau perdarahan vagina yang tidak terkait dengan siklus menstruasi. Manfaat dari bunga talipuk ini sudah sejak lama digunakan dalam pengobatan tradisional di Tiongkok.

Pernulis: Misna/Mahasiswi Prodi Agribisnis STIPER Amuntai