TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Kapolres Barito Timur AKBP Viddy Dasmasela  didampingi Kapolsek Dusun Timur dan KBO Kasatlantas Polres Barito Timur mengunjungi rumah duka anak yang diisukan meninggal akibat gizi buruk di Desa di RT 02 Desa Matarah, Rabu, 30 November 2020.

Di rumah duka tersebut Kapolres berbincang-bincang beberapa saat dengan keluarga yang berduka serta memberikan dukungan agar tetap kuat dalam Tuhan serta tetap memberikan perhatian kepada saudara-saudara dari anak yang telah meninggal.

"Pak kades tolong kita saling bantu dan berkoordinasi, ini adalah duka kita bersama agar keluarga diberikan kekuatan dan ke depan kita bisa sama-sama merawat saudaranya yang masih hidup," pesan Kapolres kepada Kepala Desa Matarah di hadapan keluarga yang sedang berduka.

Kades Matarah Sugiyatno mewakili pemerintah desa dan masyarakat Desa Matarah, menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan dan dukungan Kapolres Barito Timur.

"Tadi beliau menyampaikan rasa belasungkawa sekaligus memberikan dukungan kepada keluarga agar tidak larut dalam duka serta mengambil hikmah dari musibah ini untuk ke depannya," ucap Kades.

--page

Pada kesempatan itu Sugiyatno juga menepis informasi yang beredar di masyarakat yang menyebutkan bahwa warganya meninggal dunia dalam kondisi gizi buruk atau kelaparan karena ditelantarkan.

"Ada isu-isu yang kurang bagus, dapat kami katakan bahwa itu (dugaan yang) terlalu dini," tegasnya.

Kades mengisahkan, warga RT 02 yang meninggal tersebut berusia 10 tahun, terlahir kembar dan sejak usia 4 tahun sudah sakit-sakitan.

"Pada dua tahun awal usianya bertumbuh secara normal, namun setelah dua tahun mulai ada perubahan, jadi anak kembar ini kita nilai jadi hiperaktif sehingga orang tua atau keluarganya membatasi ruang geraknya," paparnya.

"Karena anak-anak ini juga kalau sampai keluar rumah, apa (saja) yang ditemukan dimakannya," imbuh Kades.

--page

Dia membantah bahwa anak tersebut bersama kembarannya dikurung dan ditelantarkan. Menurutnya, mereka dikurung saat orang tuanya harus bekerja atau beraktivitas lain agar mereka tidak keluar rumah.

"Sebelum meninggal anak ini juga sudah sakit sekitar satu bulan dan kondisinya drop dalam satu minggu terakhir sehingga tidak bisa makan. Jadi tidak benar kalau ada yang menyebut keluarga tidak memperhatikan, anak ini memang dari umur 4 tahun sudah sakit-sakitan," jelasnya.

Sugiyatno berharap penjelasan darinya dapat dipahami oleh semua pihak sehingga tidak lagi berkembang isu liar yang tidak benar dan menambah beban bagi keluarga yang sedang berduka. (BOLE MALO/B-5)