BORNEONEWS, Turki - Geger budaya atau yang populer dengan sebutan culture shock kerap terjadi saat pertama kali mengunjungi suatu negara, baik sekedar liburan, maupun menetap.
Geger budaya biasanya terjadi karena perbedaan yang mencolok antara negara asal dengan negara tujuan, sehingga yang mengalami akan merasa aneh atau terkejut dengan situasi tertentu. Salah satu geger budaya yang sering dialami adalah perbedaan makanan.
Berikut kisah geger budaya saya soal makanan di Turki:
Jika dilihat sekilas menu makanan di Turki sangat menggoda. Mulai dari döner, ?skender kebap, sampai kokoreç. Namun kenyataan tidak seindah ekspektasi.

Hal pertama yang cukup mencengangkan adalah porsinya. Bagi saya porsi makanan di Turki cukup besar, bisa dimakan oleh 2 orang. Agak jarang saya temukan menu dengan porsi yang pas, selalu berakhir dengan membungkus sisanya untuk dimakan lagi di rumah.
--page
Kedua adalah rasa. Jika makanan Indonesia kaya akan rempah yang "bikin nagih". Makanan Turki cenderung hambar dan masam.
Meskipun Turki sendiri kaya akan rempah-rempah, ternyata warganya tidak begitu suka dengan wangi rempah-rempah, sehingga mereka hanya menggunakannya sedikit pada setiap masakan.

Selain itu tomat adalah bahan dasar utama hampir setiap masakan Turki. Mereka punya pasta tomat sendiri yang disebut salça. Jadi, jangan heran jika kamu menemukan tomat dalam setiap makanan yang kamu pesan.
Selain tomat, rasa masam pada makanan Turki juga berasal dari yogurt, misalnya pada pideli kofte dan skender kebap.
Kedua menu ini menggunakan yogurt murni tanpa bumbu apapun sebagai sausnya.
--page
Ada juga rasa asam dari lemon. Jangan heran apabila sedang makan di restoran Turki, kemudian disadikan lemon sebagai pendamping, hampir di setiap menu.

Ketiga, budaya makan roti. Salah seorang teman pernah bertanya kepada saya, "Bagaimana bisa kamu kenyang tanpa makan roti?"
Jawaban saya sangat sederhana, "Bagaimana mungkin kamu kenyang tanpa makan nasi?"
Roti dan kentang dalam satu meja. Apa pun menu yang dipesan, rumah makan akan selalu menyediakan roti dalam keranjang, gratis.
Makanan pokok penduduk Turki adalah roti. Meskipun nasi juga lazim dikonsumsi, namun bagi orang Turki belum kenyang jika belum makan roti. Jadi, jangan kaget apabila melihat orang Turki yang makan nasi dan roti dalam satu piring. Ini adalah hal biasa di Turki.
Selain itu porsi nasi yang disediakan di rumah-rumah makan di Turki juga kecil. Saya pernah menolak roti dan meminta untuk ditambahkan lebih banyak nasi di pesanan saya. Mereka dengan senang hati mengambil piring saya menambahkan lebih banyak nasi di atasnya.
Namun, saat mereka mengembalikan piring tersebut, jumlah nasinya hampir tidak bertambah, mungkin hanya bertambah beberapa sendok makan.
Bukan berarti mereka pelit, hanya saja mereka tidak biasa makan nasi dalam porsi yang pas menurut masyarakat Indonesia.
--page
Sayur-sayuran juga sangat tergantung musim. Misalnya waluh, yang hanya ada di musim dingin, atau cabe rawit yang hanya saya jumpai di awal musim gugur. Selama tinggal di Turki saya hanya berhasil makan sambal selama satu bulan saja.

Kondisi ini memaksa saya untuk beradaptasi. Salah satunya dengan memasak sendiri di rumah, atau makan makanan yang rasanya bisa diterima di lidah orang Indonesia. Misalnya corba, menamen, dan tavuk haslama.

Kendala lainnya yaitu rice cooker, atau mesin penanak nasi. Di Turki sangat sulit menemukan mesin penanak nasi, kalaupun ada di toko-toko Asia, harganya cukup membuat kantong jebol, terutama bagi pelajar.
Butuh waktu berbulan-bulan bagi saya untuk bisa memasak nasi menggunakan wajan teflon (di sini juga tidak ada panci penanak nasi seperti di Indonesia). Sempat
putus asa di bulan-bulan pertama di Turki. Saya tidak makan nasi selama berminggu-minggu, hingga saya menemukan restoran Korea di Bursa.
Nasi pertama yang saya makan setelah berminggu-minggu, di restoran Korea, Bursa.
--page
Saya berkenalan dengan pemilik restoran yang merupakan orang Korea Asli, beliaulah yang meminjamkan mesin penanak nasi kepada saya selama saya
tinggal di Bursa, sehingga berhasil mencegah berat badan saya turun lebih banyak lagi. Terima kasih Ahjuma. (WULAN/B-5)









