PENYALURAN minyak tanah bersubsidi resmi dihentikan pada minggu ketiga Februari 2016. Namun, sejak minggu pertama Februari, minyak tanah sudah mulai langka. Warga mulai kesulitan untuk mendapatkan minyak tanah. Padahal, tidak semua warga yang mendapatkan elpiji 3 kilogram (kg) menggunakannya untuk memasak. Mereka masih khawatir dengan keamanan tabung konversi tersebut dan memilih menggunakan kompor minyak.


Selain sulit untuk didapat, harga minyak tanah pun telah membumbung. di tingkat pengecer (kios) harga minyak tanah di atas harga eceran tertinggi (HET), yakni mencapai Rp7.000 per liter. Padahal, harga minyak tanah bersubsidi hanya Rp3.400 per liter.


Menanggapi kelangkaan minyak tanah di minggu pertama Februari, Operation Head PT Pertamina Kumai, Sumardi, menjelaskan, hingga saat ini pihaknya baru menyalurkan 50% alokasi minyak tanah bersubsidi untuk Kobar. Sehingga masih ada 50% yang akan disalurkan kepada agen. “Ini baru 50 persen yang kita alokasikan kepada agen penyalur,” kata Sumardi.


Sementara itu, pemilik Pangkalan minyak tanah di Kelurahan Raja Seberang, Juminto mengatakan, informasi yang ia terima dari agen resmi penyalur, minyak tanah bersubsidi terakhir didistribusikan 22 Februari 2016.

Namun, ia pesimistis untuk tahap terakhir ini akan ada penyaluran minyak tanah subsidi. “Masih sekali lagi penyaluran, kalau ada yah kita bagikan apabila tidak ada kita akan bagikan gas elpiji 3 kg, harganya Rp24 ribu,” kata Juminto. (KK/B-2)